Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Islam Mengukur, Bukan Diukur Oleh: UU Hamidy

Islam Mengukur, Bukan Diukur Oleh: UU Hamidy

Allah Maharaja Umat Manusia, Maha Pencipta, Maha Kuasa, Maha Mengetahui lagi Maha Pengatur, hanya memberi ilmu sedikit kepada manusia. Karena itu sebenarnya manusia tidak mampu mengukur dengan benar segala kata dan perbuatannya. Tapi manusia perlu mengukur kata dan segala tindakannya agar berhasil dan selamat dalam hidupnya. Maka, Alquran kitab yang tiada diragukan kebenarannya petunjuk bagi orang bertakwa, dapat dipakai untuk mengukur dengan benar kata serta perbuatan manusia.

Bagaimana memakai Alquran untuk mengukur perbuatan manusia diberi petunjuk dan bimbingan oleh Nabi Saw kepada para sahabatnya, sehingga tampillah generasi sahabat menjadi generasi terbaik umat manusia. Perbuatan Nabi Saw yang dikenal dengan as-Sunnah itu berlaku dengan bimbingan wahyu dari Allah, sebab Nabi Saw tidak berbuat menurut hawa nafsunya. Karena itu Alquran dan Sunnah Nabi Saw menjadi pengukur yang mutlak bagi umat manusia. Jika tidak memakai kedua sandaran Syariat Islam tersebut untuk mengukur perbuatan manusia, niscaya akan sesat dan mendapat bencana yang besar.

Marilah kita perhatikan beberapa perkara bagaimana Islam yang bersandar kepada Alquran dan Sunnah Nabi Saw mengukur perbuatan manusia. Islam agama yang sempurna mengatur sesembahan yang benar untuk diibadahi hanyalah Allah Yang Maha Esa yang tiada sekutu bagi-Nya. Inilah ukuran yang benar. Sebab, kalau sesembahan (tuhan) itu lebih dari satu, maka mustahil akan maha pencipta, maha kuasa dan maha pengatur. Inilah yang logis menurut fitrah penciptaan manusia. Menyembah tuhan yang berbilang, bahkan menyembah benda alam adalah tidak benar dan tidak sesuai dengan akal sehat. Karena itu manusia dilarang menyekutukan Allah dan hanya disuruh beribadah kepada Allah semata.

Dengan bersandar kepada Alquran dan as-Sunnah, maka Syariah Islam telah mengukur atau menentukan siapa saja yang halal dinikahi. Maka Syariah Islam mengharamkan menikahi ayah dan ibu serta saudara kita seibu maupun seayah. Bayangkan kalau manusia tidak memakai ukuran ini, bagaimana besarnya bencana yang akan menimpa. Begitu pula Islam mengukur riba sebagai perbuatan haram. Lihatlah ketika manusia tidak memakai ukuran itu. Perbuatan riba menimbulkan bencana ekonomi, orang miskin ditindas oleh yang kaya serta tidak mendapat keadilan untuk menikmati sumber daya alam, yang sesungguhnya milik Allah untuk semua umat manusia. Hal yang sama terjadi pada perbuatan zina dan kawin sesama jenis (homoseks dan lesbian), yang Islam mengukurnya sebagai perbuatan keji lagi hina. Kehidupan memberi bukti bagaimana akibatnya setelah ukuran itu tidak berlaku. Timbul penyakit jasmani dan ruhani yang tak dapat dikendalikan.

Sekarang, dunia global tidak mau mengukur perbuatan manusia dengan Syariah Islam. Dunia mengukur dengan demokrasi buatan manusia, yang akibatnya manusia ditimpa bencana yang semakin hari semakin parah. Demokrasi tidak memakai Syariah Islam untuk mengukur manakah agama yang benar-benar datang dari Allah Swt. Maka agama Islam diukur oleh demokrasi sama saja dengan agama lain. Pandangan demokrasi itu mengukur Islam tidak lagi agama yang sempurna, sehingga dapat menghancurkan iman dan akidah umat Islam. Sebab, manusia tidak berhak secara akal sehat menentukan sesembahan atau tuhannya. Yang berhak tentulah yang menciptakan yakni Allah yang maha kuasa lagi maha pencipta dan pengatur. Inilah bencana yang paling besar yang ditimpakan demokrasi kepada umat manusia. Dengan demokrasi, manusia tidak mengenal siapa yang menciptakan dirinya, sehingga menampilkan generasi yang bingung, yang akhirnya dengan mudah masuk perangkap setan yang mempermainkan hawa nafsunya. Sementara umat Islam yang mengamalkan demokrasi akan menentang Alquran dan as-Sunnah, sehingga bisa jatuh syirik akbar bahkan murtad.

Demokrasi mengukur yang utama bagi manusia ialah haknya. Karena itu harus ada aturan menganai hak asasi manusia (HAM). Maka manusia di mana-mana hanya menuntut hak, tidak menghiraukan kewajiban. Logika demokrasi itu terbalik, sebab memandang hak dulu, baru kewajiban. Padahal yang benar lagi logis menurut Islam, penuhi kewajiban dulu, baru menuntut hak. Ini ditandaskan oleh agama Islam, menyembah dulu (kewajiban) baru minta tolong (hak) kepada Allah. Karena itu HAM ini bukannya mengatur hubungan manusia, sehingga mudah dipakai untuk menindas dan menjajah.

Selanjutnya, demokrasi mengukur lelaki dan perempuan harus disamakan dalam segala sektor kehidupan. Konsep ini tidak dapat diterima oleh akal sehat, apalagi oleh Alquran dan Sunnah Nabi Saw. Sebab Allah telah menciptakan secara fisik biologis lelaki berbeda dengan perempuan. Begitu juga secara kejiwaan. Lalu atas dasar apa mereka harus disamakan. Islam mengukur lelaki dan perempuan harus dibedakan, sebagaimana harus berbeda hak dan kewajiban mereka. Beda kewajiban dan hak lelaki dengan perempuan itulah yang menjadi tajuk mahkota keindahan hidup mereka dalam berumah-tangga.

Inilah beberapa perkara mendasar setelah sistem demokrasi mengukur perbuatan umat manusia. Dengan demokrasi serupa itu, manusia tak dapat menyadari dengan benar siapa dia serta apa kewajiban dan haknya dalam kehidupan. Karena itulah demokrasi diperkuda oleh bendawi (materialisme) sehingga menampilkan kapitalisme dengan buas. Demokrasi tidak akan pernah mengukur dengan benar lagi adil tentang perbuatan manusia. Demokrasi mengukur hanya akan menentukan untung-rugi dari timbangan hawa nafsu. Demokrasi tidak akan dapat mengukur dan membedakan yang hak dengan yang batil, yang haram dengan halal, yang zalim dan yang adil, serta yang jujur dengan munafik.

Jika demikian halnya, mau ke mana hidup kita dengan perahu demokrasi ini. Kita mengharungi lautan hidup dari dunia menuju akhirat. Perjalanan yang amat panjang yang memerlukan alat pengukur yang benar, logis dan tepercaya. Alat pengukur itu tidak lain dari Alquran dan as-Sunnah yang telah menyampaikan segala kebaikan dan segala kemudharatan kepada umat manusia. Dengan perahu demokrasi, kita hanya menempuh perjalanan dengan perkiraan ‘’barangkali’’ serta dugaan yang tidak berdasar dan tidak logis. Umat manusia telah dipermainkan oleh demokrasi sehingga tak terbayangkan, bagaimana kelak di akhirat akan berhadapan dengan Allah Yang Maha Perkasa mempertanggungjawabkan segala perbuatannya.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *