Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Gunung Kasiangan dalam Mitos dan Perang Gerilya di Kuantan (Bagian 3), Oleh: UU Hamidy
Gunung Kasiangan di seberang Batang Kuantan, dilihat dari Kenegerian Siberakun. Foto: Dokumentasi Bilik Kreatif.

Gunung Kasiangan dalam Mitos dan Perang Gerilya di Kuantan (Bagian 3), Oleh: UU Hamidy

Berikutnya, masih muncul lagi ujian mental itu. Dalam perjalanan menuju Cerenti, melalui Pulau Kulur dan Selat Panjang Inuman, para gerilya ini berjalan dalam beberapa rombongan dengan jarak antara rombongan sekitar 250 meter. Rupanya, dalam rombongan yang terdahulu ada pula orang-orang ‘’pemandir’’ (orang yang suka membuat lawak).

Sewaktu rombongan yang terdahulu ini melalui sebuah jembatan dalam malam hari barangkali, mereka segera memukul-mukul lantai jembatan itu, sehingga kedengaran seperti bunyi senapang. Rombongan di belakang yang mendengarnya menduga bahwa peperangan telah dimulai. Maka calon gerilya yang lemah mentalnya –menurut cerita—segera merasa sakit perutnya: berbunyi cacing perutnya.

Bagaimanapun juga suka duka perjalanan kaum gerilya itu, namun akhirnya sampai juga di front Cerenti. Setibanya di sana, semua siasat telah diatur. Laporan dari kurir pihak kita Mat Tiwung telah dipelajari sebaik-baiknya. Kode-kode telah ditentukan dan juga kode-kode Belanda telah dikenal melalui kurir kita tersebut.

Gerilya dari sepuluh kenegerian dewasa itu benar-benar sudah bernama gerilya –bukan calon gerilya lagi—karena mereka memang telah menyediakan jiwa dan raganya untuk perjuangan membebaskan tanah airnya dari penjajahan. Sebahagian besar gerilya dari 10 kenegerian Rantau Kuantan telah mengambil tempat kira-kira 6 Km di darat kota Cerenti.

Dari sana diharapkan akan berlangsung perlawanan terhadap Belanda ditambah dengan orang-orang Indonesia yang mau disewa Belanda untuk menindas bangsanya sendiri. Tempat itu bernama Siampo Danau Pawua Cerenti. Sebelum serangan dilakukan, kaum gerilya ini berisitirahat dalam beberapa panggung atau pondok di tempat tersebut.

Tapi sayang. Sebelum serangan gerilya dari 10 kenegerian ini berlangsung, rupanya Belanda dan pembantu-pembantunya berhasil dapat mencium jejak gerilya tersebut. Dengan tiada terduga, Belanda mengadakan serangan lebih dahulu ke tempat itu sekitar pukul 4.00 Subuh. Para gerilya kita berada dalam posisi yang tidak baik, mereka tidak sempat menyusun perlawanan. Akibatnya, mereka menjadi sasaran peluru musuh di atas pondok itu. Mereka yang selamat adalah yang mempunyai ketangkasan terjun dari pondok ladang tersebut atau yang mampu berlari dengan cepat mencari perlindungan.

Maka jadilah Siampo sebagai sebuah medan, dan gugurlah beberapa gerilya yang telah rela berkorban untuk kejayaan bangsanya. Di antara mereka yang gugur di medan pertempuran Siampo itu diketahui nama-namanya:

1. Pang dari Baserah, komandan gerilya dari Kenegerian Baserah
2. Mat Jawa, dari Sentajo
3. Liamat, dari Seberang Taluk
4. Amir Suman, dari Seberang Taluk
5. Usup Basri, dari Seberang Taluk
6. Nyato Soham, dari Seberang Taluk

Tidak lama setelah kejatuhan Siampo Danau Pawua Cerenti itu, maka gerilya dan tentara kita memang sudah sukar mempertahankan daerah tersebut. Akhirnya Belanda sampai ke Teluk Kuantan.

Setelah Belanda menduduki Teluk Kuantan, maka kaum gerilya berusaha mengadakan perlawanan pada tempat dan waktu yang baik. Dengan ini, maka Gunung Kasiangan mendapat tempat tertentu dalam usaha perlawanan dalam gerilya tersebut. Kaum gerilya baik dari arah Baserah maupun dari arah Teluk Kuantan dan Lubuk Jambi dengan mudah dapat bertemu di Gunung Kasiangan.

Di sini mereka dapat saling bertukar informasi. Tapi bukan hanya sekadar itu. Dekat Gunung Kasiangan itu ada tempat berkebun yang disebut Guloan. Di tempat ini para gerilya kita memperoleh bahan makanan, beristirahat dan memperoleh atau menyimpan persenjataan mereka.

Poros: Koto Rajo – Gunung Kasiangan – dan Lubuk Jambi ini amat besar artinya bagi perlawanan gerilya di daerah Kuantan. Dengan poros itu, Belanda hampir tidak berhasil melumpuhkan perlawanan mereka. Meskipun beberapa tokoh gerilya dapat ditangkap Belanda, misalnya: Matsudin, Aminuddin dan Dulakarin dari Kenegerian Siberakun, namun Belanda tidaklah dapat melemahkan semangat perjuangan rakyat.

Memang haruslah diakui, tidak ada perlawanan yang sengit dari bukit Gunung Kasiangan terhadap serdadu Belanda yang melewati tempat itu. Tapi bagaimana ketakutan serdadu Belanda melewati tempat ini cukuplah tergambar dengan tingkah laku mereka. Setelah Osai Pikek –komandan gerilya dari Kenegerian Simandolak—menembak jatuh seorang serdadu Belanda yang sedang duduk di depan motor boat-nya, maka kawasan Gunung Kasiangan menjadi perhatian khusus dari pihak musuh. Biasanya, sekitar, 1 Km akan melewati daerah ini, serdadu Belanda –yang kebanyakan dewasa itu terdiri dari orang Ambon—sudah melakukan penembakan ke arah bukit yang strategis ini. Demikian juga jika musuh hendak melalui tempat tersebut dari arah mudik –yaitu dari arah Teluk Kuantan.

Dalam suatu peristiwa, serdadu Belanda yang terdiri dari 7 orang Ambon telah berhasil mendaki Gunung Kasiangan. Mereka segera menuju daerah perkebunan karet yang bernama Guloan karena mereka telah mendapat informasi bahwa di tempat ini ada seorang orang tua yang telah banyak memberikan bantuan dan informasi kepada kaum gerilya kita. Orang itu –Haji Harun—berhasil dijumpainya, namun berkat kecerdikannya, dia dapat selamat. Sejumlah senjata kaum gerilya kita yang disimpan di pondok petani tua itu telah diambil semuanya oleh serdadu Belanda orang Ambon tersebut.

Sesudah peristiwa itu, paling kurang masih ada tiga kali serdadu Belanda –yang juga kebanyakan orang Ambon—melakukan serangan ke bukit Gunung Kasiangan. Tapi mereka tidak berani lagi mendekati bukit itu, karena tekanan dari kaum gerilya kita makin terasa cukup kuat oleh pihak musuh. Serdadu Belanda hanya memberikan sejumlah tembakan dari arah seberang. Dari perbuatan ini, mereka mengharapkan, beberapa pos gerilya yang ada di sekitar bukit tersebut, sehingga sedikit banyaknya akan terkena oleh ledakan peluru mereka.

Gunung Kasiangan, sesuai dengan mitosnya, memang tidak bernada garang. Bukit itu tidak memberi korban, baik kepada musuh maupun kepada gerilya kita. Namun demikian, bukit yang mempunyai mitos ini, telah banyak berbuat dalam arti memberikan kelapangan dan keleluasaan kepada kaum gerilya kita. Bahkan bukan hanya sampai di situ. Daerah bukit ini, sekaligus dapat memberikan perlindungan kepada rakyat setempat, dari pengejaran dan perkosaan penjajah.***

Catatan: Deskripsi mengenai perlawanan gerilya dalam tulisan ini merupakan rangakaian dari beberapa keterangan bekas gerilya Kenegerian Siberakun.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Canang Nomor 11 Tahun 1978

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *