Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Gunung Kasiangan dalam Mitos dan Perang Gerilya di Kuantan (Bagian 2), Oleh: UU Hamidy
Jalan menuju Gunung Kasiangan. Teduh karena rimbunnya kebun getah di kiri dan kanan jalan. Foto: Dokumentasi Bilik Kreatif.

Gunung Kasiangan dalam Mitos dan Perang Gerilya di Kuantan (Bagian 2), Oleh: UU Hamidy

Masing-masing kenegerian mengirimkan calon gerilya menurut kemampuan masing-masing. Tapi pada umumnya berjumlah sekitar 10 sampai 30 orang. Tiap kenegerian komandannya adalah:

1. Kari > Matdusin
2. Koto Taluk > Malik
3. Seberang Taluk > Kamaluddin
4. Kopah > Ali Basa
5. Sentajo > Sutan
6. Benai > Ohab
7. Siberakun > Ibnu Abas
8. Simandolak > Osai Pikek
9. Pangean > Sihak
10. Baserah > Pang

Untuk Kenegerian Siberakun, mereka yang telah dikirim untuk menjadi gerilya di front Cerenti itu ialah:

1. Binu alias Ibnu Abas, sebagai komandan rombongan
2. Joamin
3. Matsudin
4. Jikarin
5. Matlasin Litun
6. Suman Rabbana
7. Rudin Kenek
8. Musa tukang uruik (urut), sebagai tim kesehatan
9. Leman Bolial
10. Usuf Gunung
11. Lasin Jamin, sebagai tim kesehatan karena dia dukun
12. Takayo Dia
13. Raja Hamzah, guru silat
14. Usin Jolelo (dukun), sebagai tim kesehatan
15. Dasin Monan
16. Asan Datin
17. Asan Ibrahim
18. Jasa
19. Judin Kancial
20. Jeso
21. Matrasit

Usaha dalam menghadapi penjajahan Belanda dalam perang kemerdekaan tersebut, meskipun tampaknya amat darurat, namun dalam ukuran tertentu juga sudah dipersiapkan dalam batas yang minimum. Di samping ada gerilya yang pergi ke medan pertempuran, di kampung juga dibentuk tiga seksi yang akan memberikan dukungan kepada kaum gerilya. Ketiga seksi itu ialah:

1. Seksi Perbekalan
2. Seksi Persenjataan
3. Seksi Personalia, yang akan mengusahakan mengumpulkan calon-calon gerilya yang baru, untuk pengganti yang mendapat cedera atau meninggal.

Untuk Kenegerian Siberakun, masing-masing seksi itu telah digerakkan oleh:

I. Seksi Perbekalan:

1. Haji Nurdin
2. Haji Harun, merangkap kurir
3. Miat
4. Osai

II. Seksi Persenjataan:
1. Soman
2. Dulakarin
3. Ongku Kari Ali

III. Seksi Personalia:
1. Aminuddin
2. Abdurrahman
3. Maarif

Senjata-senjata yang dibawa kaum gerilya ini ialah:

1. Pedang
2. Bambu runcing
3. Minyak bensin
4. Keris
5. Gobok, senapang belansa

Di Kenegerian Siberakun, sebelum para gerilya berangkat, lebih dahulu diberi semangat dan pendirian yang kokoh, melalui beberapa pidato dari beberapa ulama dan pemuka masyarakat. Mereka berangkat dengan mengambil waktu yang baik –mereka berangkat dengan pelangkahan. Para keluarga, sahabat dan handai tolan, melepas para pejuang ini dengan sedih hati, tapi penuh pasrah dan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mereka berangkat dengan iringan musik, dengan lagu-lagu kepahlawanan seperti:

1. Darah Rakyat
2. Sorak-sorai Bergembira
3. Dari Barat Sampai ke Timur
4. Masyumi Melangkah

Setelah mereka ini berkumpul semuanya di Koto Rajo Baserah, maka mereka segera disusun menjadi beberapa rombongan. Mereka disiapkan mental dan fisiknya. Dalam hal ini, Haji Ismail Umar sebagai Komandan Gerilya dan Marah Halim sebagai Komandan Tentara, adalah dua orang besar yang akan mengatur dan menentukan bagaimana perlawanan akan berlangsung.

Dalam ujian mental calon gerilya ini, telah terjadi suatu kisah yang cukup menggelikan hati. Kira-kira satu hari sebelum kaum gerilya berangkat ke front Cerenti, datanglah pesawat terbang Belanda mencoba mencari-cari di mana barangkali kaum gerilya itu berada. Waktu itu rupanya sebuah sangsaka merah putih dikibarkan di atas pohon kelapa. Begitu awak pesawat melihat bendera tersebut, dia segera berkesimpulan di sana ada gerilya. Pesawat dengan segera menukik dan menembak ke arah sekitar bendera tersebut.

Kaum gerilya yang berada di sekitar tempat itu segera mencari perlindungan masing-masing. Tiap mereka mencari tempat yang aman bagi dirinya. Tapi meskipun demikian, beberapa di antara mereka rupanya ada yang telah buang air besar di dalam celananya, dan ada pula yang terjun masuk ke dalam lumpur sawah. Mereka ini dengan mudah dikenal oleh kedua pimpinan tadi –Marah Halim dan Ismail Umar. Calon gerilya yang demikian, sore itu juga disuruh pulang ke kampungnya masing-masing oleh kedua tokoh tersebut. (bersambung)

Catatan: Deskripsi mengenai perlawanan gerilya dalam tulisan ini merupakan rangakaian dari beberapa keterangan bekas gerilya Kenegerian Siberakun.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Canang Nomor 11 Tahun 1978

Gunung Kasiangan dalam Mitos dan Perang Gerilya di Kuantan (Bagian 3), Oleh: UU Hamidy

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *