Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Gagasan dalam Islam dan Demokrasi, Oleh: UU Hamidy
Foto: entrepreneur.com

Gagasan dalam Islam dan Demokrasi, Oleh: UU Hamidy

Allah Yang Maha Bijaksana menurunkan Alquran kitab peringatan umat manusia agar terhindar dari tipu daya setan yang selalu menyesatkan manusia dari jalan Allah. Jalan hidup yang selamat dengan Alquran diberi contoh tauladan oleh Nabi Muhammad Saw bagaimana Sunnahnya membina para sahabat, sehingga tampillah generasi sahabat menjadi manusia yang terbaik di muka bumi. Untuk mengubah nasibnya manusia harus mengubah dirinya, yakni mengubah akidahnya jadi akidah yang benar, mengubah akhlak jadi mulia serta memperbaiki perbuatannya. Kemudian barulah membuat gagasan berusaha mendapatkan kehidupan yang sejahtera lahir dan batin. Mereka membuat gagasan dengan niat beribadah agar mendapat ridha Allah. Gagasan itu dilakukan dengan kawalan Syariah Islam. Sebab tujuan hidup seorang mukmin adalah beribadah kepada Allah Swt, bukan untuk mencari kekayaan, kekuasaan dan kemashuran.

Gagasan yang bertumpu kepada akidah yang benar ini akan mendapat dukungan dari orang yang ingin beramal saleh. Karena itu dalam pelaksanaannya, orang beriman itu berusaha berbuat dengan memakai salat dan sabar sebagai penolong. Jika berhasil mereka bersyukur. Jika tidak, mereka bersabar dan tetap memuji Allah yang rahmat-Nya tercurah sepanjang hayat. Dengan demikian gagasan yang islami itu memelihara manusia supaya tetap berada di jalan Allah. Gagasan yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya ini sebagian telah diperlihatkan oleh sejarah. Perhatikanlah gagasan parit pada Perang Handak, memberikan kemenangan kepada kaum muslimin. Simaklah gagasan Muhammad Al-Fatih Khalifah Turki Usmani membebaskan kota Konstantinopel dengan gagasan menggerakkan kapal-kapalnya melintasi bukit pada malam hari. Periksalah dalam sirah sahabat, gagasan Khalifah Umar bin Khattab r.a. mendirikan Baitul Maal. Kemudian yang paling menentukan sejarah umat Islam, gagasan mengumpulkan Alquran menjadikannya satu musyaf yang terpelihara sampai sekarang.

Bandingkanlah keadaan ini dengan umat manusia yang hidup dengan sistem demokrasi yang tidak mau dipandu kehidupannya dengan agama Islam. Dalam demokrasi, gagasan dibuat atas dasar 3 kepentingan hidup yakni bendawi (materi), kekuasaan (jabatan) dan kemashuran (popularitas). Itulah tujuan hidup manusia dalam alam demokrasi. Kepentingan bendawi membuat manusia jadi serakah, kepentingan kekuasaan membuat manusia jadi egois dan hedonis sedangkan kepentingan kemashuran membuat manusia jadi ujub dan sombong. Karena itu dukungan gagasan dalam demokrasi akan datang dari manusia yang serakah, egois dan sombong. Orang yang jujur, rendah hati dan suka kepada kesederhanaan, tidak akan diperlukan oleh gagasan dunia demokrasi. Inilah yang menjadi pangkal bala, mengapa gagasan dalam dunia demokrasi banyak mendatangkan bencana dan kerusakan di muka bumi.

Gagasan dalam demokrasi bersandar kepada kemampuan ilmu dan teknologi. Tidak memerlukan kualitas ruhani orang yang melaksanakannya. Itulah sebabnya seorang mantan penjahat, asal tidak gila, tetap dipandang layak menjadi pemimpin dalam dunia demokrasi. Sebab penganut demokrasi yakin gagasan akan dapat terlaksana jika ada dukungan teknologi dan dana yang tersedia. Karena tidak bersandar kepada kudrat dan iradat Allah maka dalam pengerjaannya akan sering tergesa-gesa serta melampaui batas, sehingga banyak menimbulkan keresahan. Sebab tidak ada kawalan dari hukum Allah yang benar serta tidak pula dikendalikaan oleh orang beriman yang bertakwa. Gagasan itu hanya mengikuti kemauan hawa nafsu untuk kepentingan materi, kekuasaan maupun popularitas.

Marilah lihat bagaimana gagasan demokrasi meningkatkan taraf hidup atau kesejahteraan umat manusia. Demokrasi bertumpu kepada penanaman modal atau investasi terhadap sumber daya alam. Lantas dibangunlah berbagai pertambangan, pabrik dan perkebunan. Ini diharapkan membuka lapangan kerja serta meningkatkan pendapatan warga masyarakat. Sedangkan terhadap perusahaan diharapkan keuntungan materi yang besar tanpa menilai kerugian yang disebabkan oleh perusahaan itu, berupa kabut asap, kemarau panjang, kekeringan, wabah penyakit dsb. Karena itu ketika berbagai perusahaan itu menimbulkan kerusakan lingkungan dan bencana, pemimpin demokrasi kalang-kabut mencari gagasan lagi bagaimana mengatasi berbagai bencana dan kerusakan tersebut.

Adalah demi kepentingan materi juga, manusia demokrasi membuat bermacam tempat hiburan serta bermacam alat hiburan. Tetapi karena gagasan itu tidak dipandu oleh keimanan berbuat kebajikan dalam hidup yang sebentar ini, maka tempat dan alat hiburan itu hanya digunakan untuk perbuatan maksiat. Karena itu meskipun dalam pandangan mata gagasan dunia demokrasi itu memberi lapangan pekerjaan untuk meningkatkan taraf hidup, tapi nyatanya makin tinggi taraf hidup makin rendah pula kualitas ruhani dalam kehidupan.

Jadi, dengan gagasan dalam dunia demokrasi memang akan tampil orang-orang kaya dan orang yang bergelimang dengan harta, meskipun sebagian di antara mereka terbungkuk oleh hutang. Justru di situ tumbuh subur gagasan-gagasan perbuatan maksiat, sehingga dunia demokrasi itu akhirnya dikendalikan oleh para mafia. Maka nyatalah gagasan yang diberi merek dengan kata ‘’pembangunan’’ dalam demokrasi itu hanya menguntungkan segelintir orang kaya, penguasa dan yang punya senjata serta orang kuat. Di luar itu, mendatangkan penindasan dan kemiskinan serta menampilkan pemimpin yang zalim dan pemuka masyarakat yang munafik. Karena mereka tidak mau mengindahkan aturan Allah yang sesuai dengan fitrah penciptaan umat manusia.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *