Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Dunia yang Kerdil, Oleh: UU Hamidy
Foto: medscape.com

Dunia yang Kerdil, Oleh: UU Hamidy

Allah Maha Pencipta, Maha Kuasa, Maha Perkasa, Maharaja Umat Manusia telah menyampaikan dalam Alquran kitab pedoman hidup umat manusia, bahwa dunia tidak beharga jika tidak dipakai beribadah kepada Allah. Dunia diberikan Allah baik kepada orang kafir maupun muslim.

Sebab dunia bukanlah tanda ridha Allah. Tetapi sebagai ujian, bahkan juga untuk siksaan dan bencana. Tetapi kesenangan manusia kepada dunia begitu besar, sehingga gelap hatinya mengenal Allah. Karena cinta dunia itulah orang kafir tak mau mempercayai hari kiamat sebagai hari berbangkit.

Dalam ranah membesarkan dunia inilah kita mudah memahami mengapa kebanyakan manusia memilih demokrasi sebagai jalan hidupnya. Demokrasi disukai karena inilah pedoman hidup yang dapat memenuhi hasrat manusia terhadap dunia. Dalam dunia demokrasi manusia memikirkan dunia siang dan malam. Lupa atau tak mau menghiraukan dunia akan dia tinggalkan.

Maka dunia jadi ajang rebutan kekayaan, jabatan, kemashuran dan penampilan. Ini semuanya akan membuat takjub pada diri yang menimbulkan kesombongan tidak mau menerima kebenaran dari Allah.

Demokrasi yang membuat manusia memuja dunia telah memberikan akibat yang fatal baik terhadap nasib manusia di dunia maupun nasib malang di akhirat.

Pertama, dengan membesarkan dunia, manusia tidak mau diatur oleh hukum Allah yang akan menyelamatkan dirinya dengan membedakan hak-batil, halal-haram serta pahala dan dosa. Manusia membuat aturannya sendiri agar dia dapat berbuat terhadap dunia sesuka hawa nafsunya. Inilah yang membuat orang berebut kekuasaan dalam demokrasi, pakai segala cara, sehingga bertengkar, berkelahi dan bersengketa sampai berperkara. Demokrasi telah membuat hawa nafsu manusia jadi panglima.

Kedua, membesarkan dunia dalam pandangan mata membuat manusia melupakan kematian, meskipun dia menyaksikan kematian setiap waktu. Dia tak menyadari bahwa akhirat lebih utama dari dunia. Sebab di akhirat akan dipertaruhkan segala perjalanan hidup dunia meliputi umur, harta dan ilmu. Manusia hanya hidup untuk bekerja, cari harta, jabatan, popularitas dan penampilan. Manusia tak pernah memahami pesan penciptaan dirinya untuk beribadah kepada Allah, sehingga hidupnya hanya digunakan untuk bermaksiat kepada Allah Ta’ala Tuhan Semesta Alam.

Ketiga, membesarkan dunia telah membuat nilai harta menguasai akal pikiran sehingga harta dicari dengan segala cara. Kaya dipandang mulia, miskin dipandang hina. Semua urusan harus dinilai dengan uang. Segala bantuan dan pemberian punya tujuan tertentu. Tidak ada niat ikhlas amal saleh dalam demokrasi. Rezeki yang telah diatur oleh Allah tidak dipercayai, karena itu hiduplah manusia dengan riba, curi, rampok, korupsi, pelacuran, minuman keras, narkoba, judi, catut, mafia serta homoseksual.

Keempat, dunia yang dipandang gemerlapan menumpulkan logika manusia akan nikmat Allah. Nikmat Allah pada dirinya berupa indera dan organ tubuh yang tak ternilai harganya tidak pernah diperhatikannya. Berapa nilai panca indera dan organ tubuh tak pernah dia hitung. Padahal dia tidak akan mau menjualnya walaupun dibeli dengan harga yang semahal-mahalnya. Begitu pula nikmat kesehatan dalam umur yang panjang hampir tak pernah direnungkannya, karena dia telah tenggelam oleh urusan dunia sepanjang waktu.

Kelima
, dunia yang dipuja-puja oleh demokrasi telah menjatuhkan martabat umat manusia. Manusia yang memuja dunia merasa dirinya beharga oleh kekayaan, jabatan, kemashuran dan penampilan yang mempesona. Manusia tidak lagi mencari kemuliaan dengan bertakwa kepada Allah, tidak mencari kehormatan dengan ilmu mengenal Allah melalui Alquran dan as-Sunnah, tidak mencari harga diri dengan akhlak mulia serta tidak mencari ketentraman dengan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka tertipu oleh penipu yakni iblis dan setan sehingga tak sadar dunia membuat manusia jatuh hina.

Demikianlah, demokrasi membuat dunia begitu besar dan penting. Padahal dunia ini akan kiamat. Dunia bukanlah akhir hidup manusia. Manusia hanya melintas sejenak di dunia menuju negeri akhirat untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya di hadapan Allah Yang Maha Adil.

Di hadapan Allah akan terbuka segala rahasia kejahatan yang di dunia dapat disembunyikan atau tidak dituntut dalam perkara karena dapat ditebus dengan memberi uang suap kepada manusia yang berlagak penegak hukum. Karena itu jika ingin selamat hiduplah dengan aturan dari Allah dan Rasul-Nya, yakni Syariah Islam yang membedakan dengan tegas hak-batil, halal-haram serta dosa dengan pahala.

Jadikanlah Alquran dan as-Sunnah sebagai petunjuk yang benar, bukan petunjuk dari manusia yang zalim. Sadarilah bahwa dunia ini sangat kerdil, tak ada apa-apanya. Di sisi Allah nilainya tak sampai selembar sayap nyamuk.

Janganlah letakkan dunia di hati, cukuplah di tangan. Agar ketika dunia mendatangkan maksiat dengan mudah kita buang. Orang mukmin yang bertakwa dengan mudah mendapat dunia dan seisinya dengan salat dua rakaat sebelum salat Subuh. Kelak di akhirat akan terbukti rukuk dan sujud lebih utama dan lebih besar nilainya daripada segala harta dan kekayaan di muka bumi.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *