Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Dia Cenderung pada Dunia, Oleh: UU Hamidy

Dia Cenderung pada Dunia, Oleh: UU Hamidy

Satu di antara keistimewaan gaya bahasa Alquran kitab semesta alam, ialah penampilan pesannya melalui permasalahan. Perumpamaannya sanggam lagi mengena sehingga sekaligus memancarkan keindahan dengan makna yang dalam. Allah Swt menegaskan dalam Surah Al Baqarah ayat 26 bahwa sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpamaan apa saja, misalnya nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Kemudian dalam Surah Al Hajj ayat 73 Allah menyambung dengan dibuat perumpamaan dan dengarkanlah perumpamaan itu.

Gaya perumpamaan memang punya keunggulan tersendiri dalam teknik komunikasi lewat bahasa. Dengan perumpamaan, pesan-pesan disampaikan tidak dengan bahasa verbal yang panjang, tetapi disampaikan secara tersamar dalam bayangan perlambangan. Bahasa perumpamaan terkesan hidup lagi kreatif, sebab mendesak kita untuk membayangkan serta merenungkan. Karena itu dengan perumpamaan, bahasa yang disampaikan jadi halus dengan sentuhan yang indah.

Dalam Surah Al A’raf ayat 176 terdapat firman Allah yang maksudnya, ‘’dia cenderung pada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkannya lidahnya, jika kamu membiarkannya dia juga menjulurkan lidahnya’’. Perhatikan lebih dulu rangkai kata ‘’dia cenderung pada dunia’’, suatu redaksi yang cukup lembut. Dipakai kata ‘’cenderung’’, tidak kata yang tegas semisal suka atau mencintai. Sebab dalam kata cenderung terbayang suatu gerak, sebagaimana sesuatu yang condong niscaya akan jatuh atau rebah ke arah kecondongannya. Inilah perumpamaan bagi orang yang menyukai kehidupan dunia secara berlebihan, karena hawa nafsunya yang rendah. Dengan mengikuti hawa nafsunya maka dia akan selalu cenderung kepada nikmat dunia, sehingga tidak heran dia jadinya mendustakan ayat-ayat Allah.

Lantas mengapa orang yang cenderung pada dunia ini diumpamakan sebagai anjing? Sebab, orang yang mabuk dunia itu memang punya persamaan dengan sifat anjing. Antara orang yang cinta dunia sebagai yang dilambangkan memang punya persamaan sifat dengan anjing sebagai lambangnya. Ketika kita usir tidak kita beri makan, anjing menjulurkan lidahnya. Keadaan ini dapat dipandang wajar. Anjing itu menjulurkan lidahnya karena lapar dan haus. Tetapi setelah diberi makan dan minum secukupnya, masih juga dijulurkannya lidahnya. Jadi ini bagaimana? Sudah dapat makan minum secukupnya, tapi lidah masih juga dijulurkan sebagai tanda tidak puas.

Kenyataan sifat anjing yang demikian amat mengena begitu sesuai kalau diumpamakan kepada orang yang cenderung pada dunia, yang setiap posisi keberadaannya selalu memperhitungkan kepentingan dunia. Orang yang punya sudut pandang dunia, selalu mengukur segala kerja dan tindakannya atas dasar keuntungan bendawi. Sewaktu dunia yang didambakannya belum dapat direbut atau dimilikinya, dia berusaha mati-matian bagaikan anjing yang berlari kencang dengan lidah terjulur mengejar binatang buruannya. Dia tahan lapar dan dahaga sementara belum dapat direguknya dunia itu. Bisa juga, lidahnya terjulur mengharapkan kenikmatan dunia yang dibayangkan bagaikan sudah di bibir tepi cawan.

Tetapi setelah nikmat dunia direguknya, didapatnya serta dikuasainya, ternyata hawa nafsunya tidak juga kunjung reda atau berkurang. Malah terkesan semangatnya mengejar dunia makin bergelora. Makin banyak nikmat dunia yang direbutnya untuk menuruti hawa nafsunya yang rendah semakin besar lagi hasratnya untuk menambahnya. Jadi benarlah, kalau nikmat dunia bagaikan meminum air laut; semakin banyak diminum semakin haus.

Perumpamaan orang yang cenderung pada dunia bagaikan anjing dengan lidahnya yang terjulur, benar-benar memberikan pesan yang pas kepada orang yang punya akal budi karena cahaya iman. Segala penampilan dunia seperti kekayaan, jabatan, kemewahan, popularitas bahkan syahwat, telah diumpamakan lagi oleh Allah sebagai bunga-bunga kehidupan dunia, seperti dapat terbaca dalam Surah Maryam ayat 131. Perumpamaan berbagai nikmat dunia sebagai bunga kehidupan dunia, karena semuanya itu memang menarik lagi menggoda serta membangkitkan selera hawa nafsu, bagaikan kita tertarik memandang bunga. Tetapi betapapun menariknya keindahan bunga, namun tetaplah akan layu, gugur dan sirna.

Jadi, rugilah kita yang menambatkan hati kita semata terhadap dunia yang segalanya akan rusak binasa. Dengan petunjuk Allah, kita harus sadar bahwa dunia adalah cobaan untuk menguji kualitas iman dan ketakwaan kita. Kita akan tertipu mengejar keagungan dunia yang akan luntur dan lupa pada keagungan yang abadi di akhirat. Kita seyogianya hanya menambatkan hidup dan mati kepada Allah Rabbul Alamin, sebagaimana pesan penciptaan kita oleh Allah. Benarlah Alquran telah datang memberikan pelajaran, penyembuh bagi penyakit, petunjuk dan rahmat bagi orang yang beriman. Kalau tak dapat juga kita melihat kenyataan kebenaran ini, maka bukan lagi mata itu yang buta, tapi yang buta adalah hati di dalam dada.***

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Riau Pos, Jumat 5 Agustus 2011

 

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *