Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Demokrasi sebagai Panglima, Oleh: UU Hamidy
Foto: quietrev.com

Demokrasi sebagai Panglima, Oleh: UU Hamidy

Allah Subhanahu Wa Ta’ala maharaja umat manusia, bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi kepada-Nya. Dia-lah yang berhak diibadahi, Dia tidak lalai apalagi tidur, Dia selalu mengurus makhluk-Nya. Karena itu, segala sesuatu bergantung kepada kudrat dan iradat Allah. Allah memberi akal dan panca indera agar manusia dapat bekerja untuk keperluan hidupnya. Sedangkan untuk mengatur kehidupan manusia, Allah menurunkan Al-Quran kepada manusia pilihan Allah yaitu Junjungan Alam Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam.

Bagaimana memakai Al-Quran menjadi aturan hidup dalam diri sendiri, keluarga, masyarakat dan negara, telah diberi contoh yang indah oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam dengan kata dan perbuatan terhadap para sahabat sehingga generasi sahabat adalah generasi umat manusia yang terbaik di muka bumi. Umat manusia yang mengharapkan kesejahteraan dan kehormatan lahir dan batin hendaklah meniru para sahabat yang telah menjadikan Al-Quran dan as-Sunnah menjadi pedoman dan hukum dalam segala kata dan tindakan.

Sungguhpun demikian, agama Islam yang telah memberikan petunjuk yang sempurna tidak dipaksakan. Manusia tetap bebas memilih, mau taat atau hendak membangkang. Sebab sudah jelas oleh Islam yang hak-batil, yang halal-haram serta yang berpahala dan berdosa. Ternyata, kebanyakan manusia memilih jalan membangkang, tidak mau bersyukur akan nikmat Allah yang diterimanya sepanjang waktu.

Manusia yang menolak Syariah Islam itu telah terkecoh, memandang akal dan panca indera dapat diandalkan menghadapi medan kehidupan. Padahal lautan kehidupan dari dunia sampai akhirat begitu luas, tidak mungkin hanya ditempuh dengan akal dan panca indera yang hanya bagaikan sekeping papan. Manusia tak sadar bahwa akal dan panca indera diberi Allah untuk menerima kebenaran Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang.

Akal dan wahyu bagaikan mata dengan cahaya. Mata hanya dapat mengenal dan membedakan kenyataan jika mendapat cahaya yang menerangi. Begitu pula akal, hanya akan dapat mengenal hak-batil, halal-haram dan pahala-dosa dengan bantuan wahyu yang menjelaskan semua perkara itu. Maka selamatlah manusia yang menjadikan wahyu (Al-Quran dan as-Sunnah) sebagai ilmu, sehingga hanya semata beribadah kepada Allah serta memakai Syariah Islam menjadi pegangan hukum dalam kata dan perbuatan.

Manusia yang hidup tanpa taat kepada Allah dan Rasul-Nya bagaikan berjalan dalam gelap, tak mampu mengenal arah dan membedakan segala sesuatu di sekitarnya. Karena itu, manusia yang menolak Syariah Islam itu hanya berbuat dari persangkaan. Persangkaan tidak punya kebenaran, sehingga manusia serupa itu ditipu oleh diri sendiri. Begitulah kiranya manusia yang hidup dengan pedoman demokrasi, tidak mau menerima aturan Allah dan Rasul-Nya. Mereka merasa selamat di dunia serta memandang baik perbuatannya. Padahal mereka diancam dengan siksa di akhirat.

Ketika manusia berpikir waras, dia tahu benar cara merawat dan memakai suatu mesin hendaklah menurut panduan yang diberikan oleh pabrik pembuat mesin itu. Jika pemakai mesin tidak mengikutinya lalu membuat aturan sendiri tanpa panduan dari pabrik mesin itu, mesin akan cepat rusak, bahkan dapat mendatangkan malapetaka. Begitulah contoh sederhana, manusia yang diciptakan Allah seyogianya hanya hidup dengan pedoman dari Allah.

Bukan pedoman yang dibuatnya sendiri, yang sebenarnya adalah pedoman yang palsu, yang hanya merugikan dirinya dan mendatangkan bencana. Lihatlah dengan pandangan iman dan akidah yang benar manusia yang bersandar kepada akalnya semata, jadi terjajah setelah akalnya diperkuda oleh hawa nafsu yang sudah jadi panglima. Begitulah dalam alam demokrasi, segalanya tunduk kepada kekuasaan walaupun dengan topeng undang-undang atau peraturan. Kekuasaan adalah kendaraan hawa nafsu, jika tidak dipandu oleh iman dan takwa.

Ini hendaknya disadari oleh insan yang ingin bertemu dengan Tuhannya. Allah telah melahirkan dia dalam keadaan merdeka yang hanya semata-mata tunduk kepada aturan Allah dan Rasul-Nya. Syariah Islam telah mengatur dengan sempurna segala segi kehidupan manusia dengan kategori hak-batil, halal-haram serta pahala-dosa. Itulah yang akan selalu membimbing manusia kepada perbuatan yang berpahala, berada dalam jalan Allah yang lurus.

Hal ini berbeda bahkan berlawanan dengan demokrasi yang meletakkan kebenaran di bawah kekuasaan. Apa yang disebut aturan dalam demokrasi itu sebenarnya aturan berebut sebagaimana terkenal dengan kata ‘’persaingan’’. Mana mungkin orang akan tentram jika sepanjang waktu hanya berebut dan bersaing.

Manusia harus sadar bahwa akhirat lebih utama dari dunia. Itulah negeri tempat kembali selama-lamanya. Allah menciptakan dunia tak terpisah dari akhirat. Dunia dan akhirat dapat dirangkai dengan Syariah Islam. Dengan Syariah Islam yang totalitas, dunia bagaikan ladang, lalu di akhiratlah tempat menuai ladang itu. Tetapi dengan hidup berpedoman demokrasi yang menolak Syariah Islam, tak ada ladang amal saleh di dunia, lalu apa yang akan dituai di akhirat? Inilah yang akan terjadi jika manusia menuhankan hawa nafsunya. Lupa kepada Allah lalu Allah membuat dia lupa kepada nasib dirinya di akhirat yang akan selaka masuk neraka karena tidak mau hidup mengikuti aturan Allah dan Rasul-Nya.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *