Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Demokrasi Merusak Puasa, Oleh: UU Hamidy
Foto: 3.bp.blogspot.com

Demokrasi Merusak Puasa, Oleh: UU Hamidy

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menegaskan dalam Alquran bahwa penciptaan manusia dan jin adalah untuk beribadah kepada-Nya. Ini berarti manusia harus tunduk dan patuh kepada semua perintah Allah serta menjauhi segala larangan-Nya. Tetapi dengan menganut paham demokrasi, manusia ternyata tidak tunduk dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dengan paham demokrasi, manusia telah membuat tandingan terhadap hukum Allah, yakni membuat hukum sekuler yang tidak bersandar kepada Alquran dan as-Sunnah. Ini bermakna demokrasi menentang makna pesan penciptaan manusia oleh Allah Yang Maha Bijaksana yang hanya Dia yang berhak membuat hukum.

Sementara itu, akal sehat manusia dengan mudah memahami bahwa sesuatu yang tidak digunakan sesuai dengan maksud penciptaannya, niscaya akan rusak. Bayangkan, lemari es yang dibuat (dicipta oleh manusia) untuk menyimpan makanan tapi dipakai untuk menyimpan pakaian. Lemari es dan pakaian jadi rusak.

Begitu pula demokrasi akan merusak manusia karena tidak taat dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana pesan penciptaan dirinya oleh Allah. Maka bagaimana puasa kita yang berani membuat hukum menyelisihi (menentang) hukum Allah, menegakkan hukum sekuler ini, mengajarkan dan mempelajarinya?

Dalam demokrasi hanya ada hak asasi manusia (HAM). Tidak ada hak Allah. Jadi bagaimana manusia akan menyembah Allah, sementara tak ada haknya dalam demokrasi. Jadi hak manusia lebih penting daripada hak Allah dalam demokrasi. Hal ini tentu membahayakan aqidah seorang muslim.

Demokrasi dengan rantai kapitalisnya menghalalkan riba dalam ekonomi, seperti bunga bank, bunga koperasi, bunga KPR (kredit pemilikan rumah) dan asuransi. Padahal Allah dengan tegas mengharamkan riba dan menghalalkan jual-beli. Jika demikian halnya, bagaimana nilai puasa kita yang terlibat dengan ribawi ini?

Syariah Islam memberi hak kepada lelaki menjadi pemimpin atas perempuan. Tetapi demokrasi membantahnya dengan sistem gender menyamakan lelaki dengan perempuan dalam segala perkara kehidupan. Lalu bagaimana puasa perempuan yang memandang suaminya bukan pemimpin rumahtangga dan tidak perlu dia hormati lebih daripada orang lain?

Ini harus direnungkan oleh umat Islam yang sedang berpuasa, seberapa jauh kita telah disesatkan dari jalan Allah oleh demokrasi buatan manusia ini. Maka puasa Ramadan ini kesempatan yang baik untuk membuang paham demokrasi dalam kehidupan kita, agar puasa kita insya Allah membuat akidah kita bersih dari syirik, iman makin teguh, ilmu yang bermanfaat bertambah serta hati makin bersih dari maksiat dan dosa, dengan menjalankan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang benar.

Orang mukmin harus sadar bahwa demokrasi itu adalah jalan hidup orang kebanyakan di muka bumi yang kalau diikuti niscaya akan menyesatkan kita dari jalan Allah sebagaimana diingatkan oleh Surah Al-An’am ayat 116. Inilah jerat setan yang ampuh yang telah berhasil menghasung orang kafir berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh sebagaimana dibidas oleh Surah Maryam ayat 83.

Marilah kita berpegang kepada Syariah Islam yang sempurna dengan teguh sesuai dengan pesan penciptaan kita oleh Allah. Itulah aturan yang akan mempererat persaudaraan kita karena akan membimbing kita dalam segala perbuatan dengan ketentuan hak-batil, halal-haram serta dosa-pahala. Aturan di luar syariah Islam akan menyebabkan kita berpecah belah sebagaimana telah diperlihatkan oleh demokrasi yang hanya mendatangkan kegaduhan demi kegaduhan. Inilah hukum yang akan mampu membuat hati menjadi tenang dengan berzikir kepada Allah.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *