Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Demokrasi Membentuk Generasi Bingung, Oleh: UU Hamidy
Foto: tinybuddha.com

Demokrasi Membentuk Generasi Bingung, Oleh: UU Hamidy

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam untuk menyampaikan kebenaran kepada umat manusia. Kebenaran Al-Quran itu disampaikan oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam dengan perkataan dan perbuatan, yang kemudian disebut as-Sunnah. Karena itu, Al-Quran dan as-Sunnah adalah pedoman yang benar bagi manusia. Tanpa keduanya itu, manusia tidak akan menemukan kebenaran yang sesungguhnya.

Manusia tidak akan mampu mendapatkan kebenaran yang hakiki karena hanya diberi ilmu yang sedikit oleh Allah. Sementara ilmu yang sedikit itu dengan mudah pula ditunggangi oleh hawa nafsunya. Hanya Islam yang bersandar pada Al-Quran dan as-Sunnah yang dapat memberikan hukum yang benar untuk mengatur kehidupan manusia.

Kebenaran Allah menjadi rahmat bagi segenap alam, karena tidak rusak oleh ruang dan waktu. Justru kebenaran Islam itulah seyogianya yang mengendalikan ruang dan waktu. Karena kebenarannya adalah mutlak, tidak dapat diganggu-gugat oleh siapapun juga. Itulah sebabnya Syariah Islam yang bersandar kepada Kitabullah dan Sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam dapat melindungi daerah, harta dan kehormatan, sehingga dapat tampil kehidupan yang sejahtera lahir dan batin.

Begitulah, setelah Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam berjaya menyampaikan kebenaran Islam maka tampillah tatanan kehidupan bernegara di Madinah dengan generasi umat manusia yang terbaik di bawah kepemimpinan Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam. Selepas itu, para khalifah yang berempat meneruskan dakwah Islam, sehingga terbebaslah manusia dari kekuasaan jahiliyah Romawi dan Persia.

Islam mendapat sambutan di berbagai penjuru dunia termasuk dunia Melayu di Nusantara. Sebab Islam didakwahkan bukan untuk menjajah, tapi membebaskan manusia dari kepercayaan syirik kepada tauhid dengan akidah yang kokoh beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalam masa yang relatif pendek Islam akhirnya memimpin tiga benua, Asia, Afrika dan Eropa dalam rentangan waktu sekitar 1300 tahun.

Daulah khilafah yang mengatur negara dengan Syariah Islam memberi bukti betapa minimnya tindak kejahatan, sedangkan ekonomi berjaya dengan inflasi 0 persen. Bahkan, dalam masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, tidak ada seorang pun rakyat yang miskin dalam negara khilafah Islamiyah itu.

Sungguhpun demikian, setelah negara khilafah Islamiyah runtuh oleh siasat licik Yahudi dan Nasara, maka umat Islam yang semula bersatu oleh persaudaraan akidah Islam, terpecah belah menjadi beberapa negara bangsa. Sementara itu, tatanan dunia internasional pindah tangan dikendalikan dengan paham demokrasi sekuler.

Negeri-negeri Islam menjadi beberapa negara, lalu kemudian terjebak kepada paham nasionalisme yang memuja bangsa, kesukuan dan budaya masing-masing. Dunia Islam tidak bersatu lagi di bawah kepemimpinan Syariah Islam menyebabkan mereka dengan kudah diadu-domba oleh penjajah Barat, sehingga putuslah mata rantai ukhuwah Islamiyah.

Celakanya, negeri-negeri Islam yang dijajah oleh bangsa Barat dengan sistem kufur itu, setelah merdeka melestarikan pula paham demokrasi sekuler dalam negaranya. Akibatnya, Syariah Islam yang pernah diterapkan oleh beberapa Kerajaan Melayu Islam tidak terpakai untuk mengatur kehidupan bernegara pada dunia Melayu. Negara bangsa dengan paham nasionalisme telah membuat umat Islam lebih bersaudara dengan umat non-Islam, karena kepentingan kekuasaan dan ekonomi. Kenyataan ini benar-benar telah melumpuhkan potensi umat Islam untuk bangkit bagi kejayaan Islam.

Islam yang begitu indah lagi berwibawa dalam masa Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam dengan para sahabat, disusul dengan beberapa zaman keemasan daulah khilafah Umayyah, Abasiyah dan Turki Utsmani, jika dibandingkan dengan keadaan umat Islam sekarang ini, benar-benar menjadi terbalik. Bukan Islamnya yang terbalik, tetapi keadaan umat Islamnya.

Jika pada zaman Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam dan para sahabat, Islam memberi cahaya kehidupan bagi umat manusia, tetapi sekarang Islam dimusuhi bahkan dipandang sebagai ancaman. Konotasi teroris sudah dominan sasarannya kepada pemeluk Islam. Jadi zaman sudah membalik makna, dari rahmat bagi segenap alam, menjadi ancaman bagi keselamatan umat manusia.

Inilah rahasia. Seorang pejabat atau pemimpin mengaku beragama Islam, tapi tidak mau memakai Syariah Islam untuk mengatur negara. Karena kalau Islam diterima, tapi hukum Islam tidak dipakai, jadi sebenarnya agama Islam apa ini? Apakah ada agama tidak punya aturan, cukup dengan pengakuan lisan saja? Inilah yang pertama membingungkan generasi muda Islam.

Hal ini memberikan akibat psikologis yang besar bahayanya. Sebab, apabila orang sampai meragukan agamanya, maka dia dengan mudah jatuh kepada seorang ateis (PKI). Penyakit jiwa serupa itu bisa menyerang generasi muda Islam. Padahal, harapan masa depan umat dan juga bangsa ini, justru pada generasi muda yang cerdas, punya akhlak mulia yang bersandar kepada Kitabullah dan Sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam.

Inilah hasil paham demokrasi yang dipakai untuk mengemudikan negara. Demokrasi telah membalikkan nilai-nilai Islam, sehingga manusia masuk ke dalam zaman dusta. Marilah dilihat pembalikan nilai Islam yang akan menampilkan generasi bingung tersebut.

Menjadi pelacur diharamkan oleh Islam, tapi dilegalkan oleh demokrasi dengan menyebutnya pekerja seks komersial. Akibatnya, penutupan Gang Dolly –komplek pelacur terbesar di dunia—dihalangi dengan berbagai dalih dengan dukungan dari partai besar di negara ini. Itulah sebabnya Bupati Kendal memandang pelacur sebagai pahlawan.

Riba diancam oleh Al-Quran dengan azab kekal dalam neraka, tapi negara demokrasi tetap memelihara bank riba dengan nama bank konvensional. Islam memandang hutang sebagai aib, sehingga harus dibayar secepat mungkin. Tapi negara demokrasi hidup dengan hutang luar negeri, yang dibayar dengan sistem riba. Maka rakyat tidak lagi memandang hutang sebagai bagian dari harga diri. Malah jadi terbalik, setelah hutang diganti dengan nama ‘’kredit’’, maka yang mendapat kredit (hutang) justru bangga.

Hak asasi manusia melindungi manusia dari berbagai tindak kejahatan. Tetapi nyatanya, berbagai kejahatan yang dilakukan oleh Amerika dan sekutunya terhadap umat Islam, malah dipandang biasa saja. Yahudi Israil membantai kaum muslim Palestina, justru dibalik menjadi perbuatan membela diri.

Menodai agama termasuk tindak kejahatan, tetapi Ahmadiah yang membuat nabi palsu tetap dipelihara. Begitu pula membuat karikatur Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam bukan menghina Islam, tetapi hanya perbuatan kreatif saja. Bahkan serdadu Amerika membuang Al-Quran ke dalam kakus atau menginjak-injaknya, cukup hanya dibalas dengan minta maaf.

Sumber daya alam yang sejatinya milik rakyat, tapi dilego oleh negara kepada perusahaan swasta asing dan swasta nasional, sehingga rakyat cemas sepanjang tahun akan tibanya kenaikan berbagai bahan bakar. Tapi anehnya, pertumbuhan ekonomi negara selalu dikatakan membaik, walaupun kenyataannya rakyat makin menderita karena semuanya harus kena pajak.

Pemerintah demokrasi kenyataannya berniaga kepada rakyatnya. Biarlah rakyat bangkrut asal negara tetap sehat. Inilah akibatnya, setelah kebenaran dari Allah tidak berlaku lagi dalam kehidupan manusia. Manusia membuat kebenarannya sendiri dengan atas nama rakyat dalam negara demokrasi. Maka kebenaran manusia itu terpaksa menuruti hawa nafsu manusia. Akibatnya, rusaklah segala tatanan kehidupan. Maha benar Allah yang mengatakan bahwa manusia itu memang suka membantah bahkan menantang. Padahal dia berasal dari air yang hina.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *