Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bunga-bunga Kehidupan Dunia, Oleh: UU Hamidy

Bunga-bunga Kehidupan Dunia, Oleh: UU Hamidy

Alquran kitab alam semesta, tidak akan pernah tertandingi gaya bahasanya oleh bahasa yang manapun juga. Keindahan bahasanya telah menyebabkan orang kafir Quraisy terpesona, sehingga ada di antara mereka yang bersembunyi di belakang rumah Nabi Muhammad Saw, hanya untuk mendengarkan Qur’an secara diam-diam. Begitu indahnya bahasa kitab ini, membuat mereka terpukau, sehingga mereka katakan Junjungan Alam Semesta itu sebagai tukang sihir. Sebab, dalam pengalaman hidup mereka, tukang sihirlah yang dapat membuat pertunjukan yang memukau. Karena itu para pembesar kafir Quraisy berusaha agar tidak ada orang yang sampai mendengar bacaan Qur’an, terutama dari Rasulullah Saw.

Keindahan bahasa Alqur’an yang sekaligus memancarkan kebenaran, membuka rahasia alam semesta memberikan sentuhan keimanan bagi orang yang hatinya bersih. Dari sentuhan itu, dengan hidayah A1lah Swt, mereka ridha menerima Islam sebagai pedoman hidup, serta merasa tentram hatinya menghadapi medan dunia ini. Kebenaran Alqur’an yang membuka rahasia alam semesta ini, tidak akan pernah diketahui oleh umat manusia dengan ilmunya yang hanya sedikit diberi oleh Allah.

Perhatikanlah suatu rangkai kata dalam Alqur’an Surah Taha ayat 131 yang diterjemahkan kedalam bahasa Melayu dengan bunga-bunga kehidupan dunia. Bunga-bunga kehidupan dunia, suatu ungkapan yang indah lagi cemerlang. Punya kedalaman makna yang berkesan bagi orang yang dapat menjangkau dengan ilmu. Apa itu bunga-bunga kehidupan dunia? Apa saja di dunia ini yang dipandang indah, disukai dan menarik serta diharapkan kehadirannya untuk memenuhi selera hawa nafsu itulah bunga-bunga kehidupan dunia.

Bunga-bunga kehidupan dunia banyak sekali, sebagaimana banyak ragamnya bunga di taman bunga. Di antaranya yang menarik ialah harta benda, jabatan, wajah yang menarik, keharuman nama dan berbagai peralatan hidup lainnya yang disangkutkan kepada harga diri. Ini semuanya dikatakan sebagai bunga-bunga, sebab semuanya itu akan sama nasibnya dengan sekuntum bunga. Perhatikanlah nasib sekuntum bunga. Begitu bunga kembang dan semerbak langsung menarik perhatian kepada orang banyak. Sungguhpun begitu, bunga yang tampak indah itu, pelan-pelan layu, lalu redup dan akhirnya gugur ke bumi sebagai sampah. Itulah kenyataan dunia ini diluar daripada beribadah kepada Allah Swt. Bunga-bunga kehidupan dunia itu akan pudar, berakhir, rusak binasa dalam peredaran ruang dan waktu. Malah akhirnya berpisah dengannya, ditinggalkan setelah kita menjadi mayat atau bangkai.

Dunia dipandang indah oleh orang kafir. Orang kafir sangat perlu keindahan dunia, karena mereka suka hidup bersenang-senang dengan dunia yang demikian. Dengan dunia yang indah itu, orang kafir memandang rendah lagi hina terhadap orang mukmin yang tidak mau hidup seperti gaya orang kafir itu. Sebenarnya orang kafir yang bersenang-senang dengan dunia itu, hidup bagaikan binatang, menghabiskan umur dengan minum-makan tidur dan berkelamin sesuka hatinya. Sementara orang mukmin yang berharap bertemu dengan Tuhannya, beramal saleh untuk mengharapkan keridhaan dan ampunan-Nya.

Kenyataan dunia sekarang ini cukup menarik diperhatikan. Yang tertarik kepada bunga-bunga kehidupan dunia sekarang ini, bukan hanya orang kafir. Orang yang mengaku beragama Islam malah lebih tergila lagi kepada bunga kehidupan dunia itu. Bunga-bunga kehidupan dunia yang akan layu, malah jadi kebanggan dan simbol harga diri, sehingga menjadi tujuan hidup. Jalan untuk merebutnya telah disediakan oleh sistem demokrasi yang culas lagi munafik yang berasal dari orang kafir. Didukung oleh perilaku ekonomi yang ribawi serta dilindungi oleh hukum thagut yang menentang hukum Allah. Umat Islam telah tertipu sehingga tak menyadari bahwa ini semuanya ujian dari Allah. Sebab orang tidak akan dibiarkan oleh Allah berkata “kami telah beriman” sebelum mereka diuji.

Betapa banyak umat Islam berbondong-bondong mencari kenikmatan dan hiburan bersukaria sepanjang hari sampai lupa diri. Padahal inilah jalan menuju neraka karena di situ syetan dengan mudah memasang jeratnya. Mereka mengelak dari jalan menuju surga yang harus menempuh kesulitan, cobaan bahkan penderitaan. Mereka tak menyadari bahwa jalan yang ditaburi dengan bunga-bunga kehidupan dunia itu adalah jalan yang dapat membuat mereka tergelincir dari jalan yang benar. Inilah jalan orang konyol yang tak bisa membedakan antara yang hak dengan yang batil. Sedangkan jalan yang penuh dengan onak dan duri penderitaan, adalah jalan yang ditempuh oleh insan yang menantang prestasi, manusia pilihan yang akan mendapat kemuliaan dan kemenangan di sisi Tuhannya.

Orang mukmin yang terpelihara ketakwaannya tidak akan melayangkan pandangannya kepada bunga-bunga kehidupan dunia yang menjadi dambaan oleh orang kafir. Mereka menyadari bunga kehidupan dunia itu hanyalah cobaan atau fitnah. Mereka tak mau mencintainya di atas kecintaan terhadap Allah dan Rasul-Nya serta berjihad fisabililah. Karena itu mukmin sejati akan merendahkan sayapnya terhadap sesama muslim dan merasa cukup lagi puas dengan nikmat Tuhan yang diterimanya. Mereka tidak mau mengikuti orang kebanyakan di muka bumi ini, karena mereka yakin jika diikuti selera orang banyak itu niscaya mereka akan disesatkan daripada jalan Allah yang lurus.

Dari perumpamaan bunga kehidupan dunia ini, dapat terbentang betapa indahnya pandangan hidup yang diberikan oleh Islam bagi orang yang mencari keridhaan Tuhannya. Dalam hidup yang singkat ini yang hanya bagaikan berteduh sejenak di bawah pohon, dalam perjalanan yang panjang menuju hadirat Ilahi, manusia diuji oleh Yang Maha Bijaksana dengan bunga-bunga kehidupan dunia. Siapa yang tertarik hatinya lalu terlena oleh bunga kehidupan dunia itu, maka dia sudah bermain-main dengan dunia dan hidupnya. Dia menjadi orang yang merugi dan kelak menyesal di akhirat. Sebaliknya orang yang beriman teguh, tidak goyah ketakwaan serta pendirian batinnya, memandang bunga-bunga itu. Mereka justru makin sadar, apa tujuan penciptaannya oleh Allah, yakni hanya untuk beribadah menyerahkan hidup dan matinya hanya kepada Allah Rabbul Alamin. Mereka inilah orang-orang yang beruntung. Jadi nyatalah orang yang beruntung itu ialah orang yang tahan uji. Bukan orang sembarangan yang kalau begitu tergoda oleh dunia lantas terjerembab.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *