Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Budi Demokrasi, Oleh: UU Hamidy

Budi Demokrasi, Oleh: UU Hamidy

Nabi Muhammad Saw satu-satunya pribadi yang menampilkan sekaligus memberi contoh kehidupan ini hendaklah dilalui dengan budi pekerti yang mulia. Pantaslah Beliau Saw mendapat julukan Junjungan Alam, karena alam memberi salam kepada Baginda, sebab dengan risalah yang disampaikan Beliau telah menjadi rahmat bagi segenap alam.

Allah Yang Maha Bijaksana memuji Nabi Saw benar-benar berada di atas budi yang luhur. Nabi Saw memberikan tauladan bagaimana kemampuan akhlak mulia dapat menghadapi tantangan dari kejahilan, kezaliman dan kesyirikan.

Betapapun celaan, bahkan siksaan, diterima oleh Nabi Saw dengan dada lapang. Yang mendapat gelar Al Amin ini selalu memaafkan segala perbuatan jahat yang diarahkan kepadanya. Tetapi sebaliknya, kejahatan yang diarahkan terhadap Allah, benar-benar tak dapat dibiarkan.

Ketahuilah seorang Yahudi yang buta selalu mencacinya, tapi malah Beliau balas dengan menyuapinya dengan belas kasihan. Kelak, setelah Nabi Saw wafat, barulah dia terperangah, bahwa orang yang dia maki-maki itu rupanya yang telah menyuapinya dengan penuh kasih sayang.

Akhlak Nabi Saw sebagai pancaran Alquran telah membekas kepada para sahabat. Itulah sayap kekuatan dakwah yang luar biasa, sehingga dunia terheran-heran melihat penampilan akhlak mulia yang belum pernah dikenal sebelumnya. Khalifah Umar bin Khattab ra, sedikitpun tidak tersinggung oleh kritik seorang perempuan terhadap kebijakannya mengenai mahar.

Bahkan khalifah yang gagah berani ini langsung menerima keritikan itu. Ali bin Abi Thalib ra, juga tak jadi membunuh lawannya, ketika ia diludahi oleh musuhnya itu. Ali ra tak mau membunuh lantaran kemarahan dirinya yang merasa terhina. Dia hanya mau membunuh lawan demi menegakkan kalimat ‘’tidak ada Tuhan selain Allah’’.

Begitulah setelah puak Melayu di Riau memeluk Islam dengan rela, mereka mencoba meneladani budi pekerti yang mulia yang dicontohkan Nabi Saw. Orang patut Melayu meluruskan adat Melayu yang karut dengan Syariah Islam. Dengan adat bersendi syarak, para datuk mengawal masyarakat memelihara alam semula jadi, sehingga hutan tanah memberikan kesejahteraan serta suasana lingkungan yang segar lagi bersih.

Para datuk sebagai pemegang teraju masyarakat adat, malah membayarkan blasting (pajak bepala) rakyatnya kepada Belanda, sehingga rakyat tidak terjejas ekonominya. Sementara itu, terbayanglah keindahan lagi kebaikan budi pekerti dalam baris pantun: hutang emas dapat dibayar, hutang budi dibawa mati. Mati semut karena manisan, mati manusia karena budi. Hancur badan dikandung tanah, budi yang baik dikenang jua.

Sungguhpun demikian, budi pekerti yang mulia yang telah ditanamkan melalui ajaran Islam dalam masyarakat Melayu, kemudian hari semakin lama semakin redup. Kemerdekaan Indonesia yang direbut dengan darah para ulama beserta muridnya, akhirnya mendirikan negara dengan sistem demokrasi, suatu jalan hidup yang menyimpang dari panduan Alquran dan Assunnah. Demokrasi mencabut pagar kekuatan budi pekerti yang bersandar kepada akidah yang benar, membentuk iman yang kokoh agar hanya bertakwa semata-mata kepada Allah Yang Maha Perkasa.

Mula-mula, demokrasi menggoyang pendirian masyarakat Melayu dengan konsep semua agama itu sama. Dengan pandangan ini, orang Melayu tak perlu lagi percaya bahwa Islamlah agama yang benar yang hanya akan diterima di sisi Allah. Agama yang lain menurut demokrasi juga akan diterima Allah dan memasukkan umatnya ke dalam surga. Maka ikutlah masyarakat Melayu merayakan Hari Natal dan Tahun Baru umat Nasrani.

Kemudian demokrasi mengajarkan sekulerisme. Kita tak perlu mengatur kehidupan ini dengan Syariah Islam. Allah Yang Maha Mengatur lagi Maha Bijaksana tak perlu dihiraukan mengurus masyarakat dan negara. Demokrasi hanya tunduk kepada aturan buatan manusia. Karena itu, ketika ditimpa bencana, tak perlu minta tolong kepada Allah. Cukup ditanggulangi dengan uang dan teknologi.

Kehancuran budi pekerti atau akhlak mulia belum lagi berakhir di situ. Demokrasi menawarkan lagi hidup dengan gaya liberal, bebas berbuat apa saja demi mendapatkan kesenangan dan kekayaan. Maka patahlah pagar budi yang luhur oleh pergaulan bebas. Para datuk pemegang teraju adat Melayu akhirnya ikut menggadaikan hutan tanah Melayu kepada para cukong, demi mendapatkan nikmat dunia yang palsu.

Kemudian, demokrasi memberikan pukulan telak kepada budi pekerti yang mulia, dengan membuat paradigma bahwa manusia yang mulia itu ialah manusia yang sukses. Sedangkan manusia yang sukses itu ialah yang kaya, yang berkuasa, punya peranan penting, popularitas serta mendapat sanjungan pada media cetak dan elektronik.

Berani menentang Syariah Islam sebagai tanda orang yang maju punya taraf berpikir internasional. Maka hiduplah manusia dalam demokrasi dengan riba, lintah darat, pemerasan dan kebohongan. Riba berpasangan dengan hutang. Maka negara demokrasi melatih rakyatnya bagaimana cara hidup dengan berhutang. Sebab negara sendiri akan terjerembab jika tidak berhutang.

Maka antum lihat keajaiban dunia dalam demokrasi, bahwa yang dimaksud dengan budi itu dalam dunia demokrasi ialah uang, layanan selera, sambutan yang merangsang dan kemudahan melepaskan hawa nafsu. Kalau tak ada jasa serupa itu maka itu tidak berbudi.

Budi pekerti itu dalam demokrasi bukan rujukannya kejujuran, rendah hati, melaksanakan perintah serta meninggalkan larangan Allah dan Rasul-Nya dalam bingkai amal saleh. Demokrasi tidak akan pernah bertemu dengan akhlak mulia yang diajarkan oleh Junjungan Alam Nabi Muhammad Saw.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *