Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Berpuasa dalam Kubangan Demokrasi, Oleh: UU Hamidy

Berpuasa dalam Kubangan Demokrasi, Oleh: UU Hamidy

Allah Maha Pencipta, Maha Kuasa lagi Maha Pengatur menegaskan dalam Alquran kitab peringatan alam semesta bahwa siapa yang berpaling dari peringatan Allah akan tampil setan baginya sebagai teman. Setan itu akan membuat perbuatan yang buruk akan terkesan baik, sehingga dia terhalang dari jalan Allah.

Hal ini sesuai benar dengan manusia yang menolak aturan Allah dan Rasul-Nya lalu memakai demokrasi sebagai pedoman hidup. Umat manusia malah bangga dengan hukum buatan demokrasi dan memandang dirinya telah berbuat baik dengan hukum thagut tersebut.

Meninggalkan Alquran dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membuat manusia berkubang dengan demokrasi. Perhatikan kerbau berkubang. Kerbau merasa nyaman sebab badannya yang kepanasan menjadi sejuk oleh lumpur kubangan. Lumpur itu juga jadi perisai dari gangguan lalat dan nyamuk serta serangga lainnya.

Jadi, kubangan memang telah jadi fitrah bagi kerbau agar hidupnya nyaman dan selesa. Hal ini berbeda dengan kubangan demokrasi yang lumpurnya berupa liberal (bebas), kapitalis (bendawi), sekuler (menolak hukum Allah dan Rasul-Nya) serta gender menyamakan lelaki dengan perempuan.

Kubangan demokrasi ini sepintas lalu seperti kubangan pada kerbau, karena sama-sama menimbulkan rasa senang kepada hawa nafsu manusia. Tetapi akibatnya bukan seperti lumpur kubangan pada kerbau. Kubangan demokrasi dipandang baik oleh manusia karena berguna untuk kepentingan dunia hawa nafsunya. Inilah tipu daya setan yang lihai, sebagaimana iblis berkata untuk menipu Adam dan Hawa dengan mengaku memberi nasehat.

Begitulah kubangan demokrasi dengan lumpur hawa nafsu telah membutakan manusia melihat negeri akhirat, yakni surga dan neraka. Kubangan demokrasi benar-benar telah membuat manusia tergila-gila kepada dunia serta melupakan nasibnya kelak di akhirat. Padahal, dunia yang demikian nilainya di sisi Allah tidak sampai selembar sayap nyamuk, bahkan lebih rendah daripada bangkai kambing. Dunia itu terkutuk jika tidak digunakan untuk berzikir kepada Allah.

Sekarang, umat Islam menunaikan puasa Ramadan dengan niat beribadah mengharapkan ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tetapi dunia yang ditempuhnya siang dan malam adalah kubangan demokrasi. Ini menjadi kenyataan yang hebat, memberikan cobaan dan tantangan kepada seorang muslim memelihara puasanya melewati kubangan demokrasi dengan lumpur maksiat, di mana dan bila saja.

Dalam kubangan demokrasi, tersedia berbagai transaksi riba, dapat jabatan dengan politik yang culas, dapat menang lelang dan pekerjaan dengan sogok, cari selamat dengan jalan munafik, cari kekayaan tanpa beda halal haram serta berbagai tempat hiburan yang merangsang perbuatan zina, narkotik dan banyak lagi perbuatan maksiat lainnya.

Sungguh berat bagi seorang insan yang beriman, memelihara aqidah dan akhlak serta menegakkan syariat Islam bagi dirinya dalam kubangan demokrasi. Padahal ketiganya itu harus dia penuhi agar dia masuk ke dalam agama Islam dengan kaffah, sebagaimana janjinya kepada Allah bahwa salat, ibadah serta hidup dan matinya hanya untuk Allah semata. Dalam berpuasa, seorang saimin (pelaku puasa) memang menjaga dirinya agar tidak sampai rusak dan batal puasanya. Sungguhpun begitu, bila dan ke mana dia pergi, dia dengan mudah kena lumpur kubangan demokrasi.

Coba bayangkan, negara diselenggarakan dengan pemimpin yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, kubangan demokrasi tidak akan dibiarkan mengotori kehidupan umat manusia. Rakyat tidak akan berkubang dengan maksiat, tapi mandi pada sungai yang jernih, membersihkan jiwa dan raganya dengan air iman dan larutan hidayah, sehingga dapat memperkokoh aqidah, memperbaiki akhlak serta bertindak dalam bingkai syariah Islam. Hal ini akan memberi jalan yang lapang bagi pelaku ibadah puasa, mendapat ampunan segala dosanya dari Allah Yang Maha Pengampun.

Masyarakat dan negara yang memakai pedoman Alquran dan as-Sunnnah itu tidak hanya sebatas memberikan kesejahteraan bagi umat Islam, tetapi juga bagi segenap alam, manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan. Sebab syariah Islam melarang berbuat kerusakan di muka bumi, sehingga segala perbuatan maksiat tidak akan dibiarkan merajalela seperti dalam lumpur demokrasi.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *