Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Belanda Minta Tanah, Oleh: UU Hamidy
Foto: slideshare.net

Belanda Minta Tanah, Oleh: UU Hamidy

Allah Yang Maha Bijaksana telah memberi peringatan kepada umat manusia agar tidak serakah, loba dan tamak. Sebaliknya, iblis dan setan mengajak berbuat mubazir, memuja harta jadi kebanggaan, hidup berfoya-foya memuaskan hawa nafsu. Dalam Alquran kitab panduan umat manusia ditegaskan oleh Allah bagaimana akibat perbuatan serakah itu. Harta yang didapat tidak dengan jalan Allah, kelak di akhirat akan menjadi dobi (sterika) pada punggung manusia yang loba itu. Tanah yang dirampas tanpa hak menurut Syariah Islam akan dipikul kelak di akhirat oleh perampok yang tamak itu. Nabi Muhammad Saw menyampaikan ajaran Islam yang sempurna telah menampilkan kepada para sahabat hidup sederhana menurut panduan Syariah Islam. Ini bukan berarti menjauhi harta atau kekayaan. Tapi yang benar ialah harta harus dicari serta dipergunakan dalam bingkai beribadah kepada Allah.

Dunia Melayu terkesan memahami pesan Alquran dan as-Sunnah tentang makna harta dan kekayaan. Manusia harus hati-hati terhadap harta. Kalau sudah terlalu banyak dapat mendatangkan siksa, bagaikan kuda yang menginjak tuannya. Maka ketika datang kafir Belanda sebagai penjajah, orang Melayu benar-benar melihat sifat tamak itu amat sesuai dengan sifat Belanda. Ini terbukti dengan perbuatan Belanda minta tanah kepada raja-raja Melayu di Nusantara: diberi sejengkal mau sehasta, diberi sehasta mau sedepa. Semenjak itu orang Melayu memakai perumpamaan Belanda minta tanah untuk menunjukkan sifat loba dan serakah. Perumpamaan itu sekaligus memberi gambaran hawa nafsu yang tidak terkendali. Lalu mengapa tanah yang diminta? Tanah adalah pangkal segala nikmat dunia.

Tapi malangnya, setelah Belanda pergi, orang Melayu tidak membuang sifat serakah penjajah itu. Hukum kolonial Belanda tetap berlaku, padahal agama Islam telah memberikan Syariah Islam sebagai tatanan nilai yang sempurna, benar lagi adil karena diturunkan dari Allah Yang Maha Bijaksana. Akibatnya, yang pergi hanya batang tubuh penjajah sedangkan sistem nilainya dalam kehidupan tetap dilestarikan melalui ajaran demokrasi. Ternyata, penjajahan sistem nilai orang kafir itu jauh lebih berbahaya daripada penjajahan fisik yang dilakukannya.

Pada masa awal kemerdekaan, sistem kufur yang menyalahi Syariah Islam ini tidak begitu terasa, sebab masyarakat Melayu masih berpegang kepada adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah. Tetapi setelah pemilihan umum pertama tahun 1957 yang mengokohkan demokrasi, maka kedaulatan langsung bergeser, bukan lagi kedaulatan pada Syariah Islam, tapi kepada manusia yang diwakili oleh wakil rakyat. Maka hakikat kekuasaan oleh demokrasi dipindahkan dari Allah Yang Maha Kuasa kepada manusia yang lemah, yang pelupa, yang hanya punya ilmu yang sedikit. Inilah pangkal bala yang menyebabkan orang Melayu tidak dapat lagi menggapai kesejahteraan lahir dan batin dengan Islam yang dianutnya.

Demokrasi telah mengubah sikap dan pandangan hidup dunia Melayu dari ukhrawi kepada duniawi. Dari ruhaniah yang menyadari hari kiamat kepada bendawi yang lalai mengingat kematian. Karena itu, nilai-nilai Islam yang cemerlang yang mampu memberikan akhlak mulia dan kehormatan dengan cahaya iman yang terpancar dari tauhid yang kokoh, akhirnya tercemar oleh demokrasi yang hanya mengajarkan hidup dunia serta mencampakkan hukum Allah dari kehidupan insan, masyarakat dan negara. Lalu akibatnya bukan tanggung-tanggung. Jika dulu dunia Melayu mencela Belanda dari pandangan islami sebagai orang yang tamak lagi serakah. Tetapi setelah mereka hidup dengan alam demokrasi yang juga berasal dari orang kafir seperti Belanda, maka orang Melayu malah bisa lebih serakah lagi daripada Belanda. Lihatlah, untuk mendapat nikmat dunia yang palsu, pemerintah demokrasi menggadaikan kekayaan alam kepada siapapun juga, apa itu kapitalis, cukong maupun mafia. Setelah kekayaan alam tergadai, keserakahan rezim demokrasi itu melanjutkan lagi dengan membuat hutang dalam sistem ribawi kepada pihak orang kafir, sehinggga tak akan pernah terbayar oleh anak cucunya.

Tingkahlaku kaki tangan pemerintah demokrasi yang serakah itu segera diikuti oleh rakyatnya. Maka setelah pemerintah melego sumber daya alam, lalu membuat hutang yang menggunung, giliran rakyat hidup dengan kredit yang juga dililit oleh ribawi. Untuk mendapatkan apa saja demi memuaskan hasrat akan dunia, rakyat juga menggadaikan apa yang ada agar bisa mendapat kredit atau hutang. Maka pemerintah yang didikte oleh sistem demokrasi yang dikendalikan oleh Amerika Serikat dan sekutunya melalui lembaga yang zalim yakni Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan komando Dewan Keamanan PBB hanya mengantarkan penderitaan dan penyakit kepada umat manusia. Dengan demikian, hanya apa yang dapat kita nantikan dari tipu daya sistem demokrasi buatan manusia ini, selain daripada kehancuran dan kehinaan di depan mata.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *