Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Beberapa Pusat Pendidikan Islam di Riau (Bagian 1), Oleh: UU Hamidy
Sekolah Kuttab di Bagansiapi-api, Riau. Sekolah model ini pernah berkembang cukup pesat pada era 1970-an. Foto: Istimewa

Beberapa Pusat Pendidikan Islam di Riau (Bagian 1), Oleh: UU Hamidy

Masuknya agama Islam ke dalam kehidupan puak Melayu di Riau, menyebabkan timbulnya lembaga pendidikan Islam dalam masyarakat. Ini terjadi, pertama karena agama tauhid ini menganjurkan agar pendidikan digalakkan oleh umatnya. Yang kedua tentu saja oleh kesadaran puak Melayu itu sendiri bahwa penyebaran dan pemahaman agama Islam ini hendaklah semakin meluas dan mendalam, sehingga artinya bagi kehidupan lebih bermakna. Keadaan ini menyebabkan daerah-daerah Melayu yang memadai kadar Islamnya tampil ke depan menyelenggarakan pendidikan Islam.

Pada masa awal itu yang teramat penting tampaknya ialah bagaimana puak Melayu yang beragama Islam dapat dengan segera menjalankan syariat Islam. Sebab itu, ilmu-ilmu Islam yang pokok seperti rukun iman dan rukun Islam menjadi sasaran utama yang diajarkan. Kemudian barulah pelajaran tulis-baca huruf Arab, agar pemeluk Islam itu dapat membaca dan menuliskan Al-Qur’an.

Pada awalnya, puak Melayu besar kemungkinan telah mendirikan surau sebagai suatu lembaga pendidikan untuk menjawab kepentingan yang bersifat jangka pendek atau sebatas untuk pengetahuan dasar pemeluk Islam. Lembaga ini memang cukup efektif untuk menjawab kebutuhan yang mendesak dan praktis. Surau dengan mudah dapat didirikan dengan cara gotong-royong warganya.

Dengan tiang sebanyak 8 atau 11 batang ditambah dengan gelegar, sento, peran, kasau, dinding, dan atap rumbia, sebuah surau sudah dapat berdiri. Kegiatannya dapat dipimpin oleh seorang ulama atau guru surau dibantu oleh murid-murid yang cepat pandai mengaji. Di samping untuk tempat belajar mengaji Al-Qur’an surau juga dipakai untuk shalat berjamaah, tempat pertemuan warga dan tempat upacara hari-hari besar Islam. Bahkan ada juga yang dipakai untuk melakukan suluk bagi yang menganut tarekat.

Bagaimanapun juga, surau sebagai lembaga pendidikan yang berperan sebagai pemula untuk memberikan pelajaran membaca Al-Qur’an serta pokok-pokok ajaran Islam, tetapi tetaplah diperlukan suatu lembaga pendidikan Islam yang lebih memadai, sehingga ilmu-ilmu Islam yang pokok (ilmu fardhu a’in) dan ilmu-ilmu fardhu kifayah (untuk menghadapi kehidupan dunia) dapat dipelajari secara lebih sistematik dan mendalam.

Sebab itu, beberapa kerajaan dan daerah Melayu yang telah memeluk Islam, segera mendirikan lembaga pendidikan bagi kemajuan syiar agama itu di daerahnya. Dalam hal ini, agaknya kerajaan Riau-Lingga mungkin telah menjadikan kerajaan Melayu yang lebih awal merintis ujudnya pusat pendidikan agama Islam.

Menurut Raja Ali Haji dalam kitabnya Tuhfatal Nafis (Tuhfatun Nafis), Yang Dipertuan Muda Riau ke-5 yakni Raja Ali ibnu Daeng Kamboja (1784-1806) yang berkedudukan di Pulau Bayan telah berguru tarekat Syamaniah kepada guru tarekat Syaikh Abdul Gafar Madura. Kemudian dikatakan lagi oleh Raja Ali Haji dalam kitab tersebut bahwa tarekat Naksyabandiyah telah dibawa dari tanah Arab oleh Syeikh Ismail ke Riau.

Tarekat ini diperkirakan telah mulai diamalkan oleh warga kerajaan Riau-Lingga sejak tahun 1857. Mungkin karena raja-raja Riau ikut mengamalkan tarekat ini maka perkembangannya cukup baik. Yang Dipertuan Muda Riau Raja Ali (1845-1857) mungkin orang pertama kerabat kerajaan yang menjadi pengikut tarekat Naksyabandiyah. Sedangkan Raja Haji Abdullah yang menggantikan Raja Ali tahun 1857 telah menjadi mursyid tarekat tersebut.

Masjid Sultan Riau di Pulau Penyengat Inderasakti selesai dibangun tahun 1832. Masjid ini merupakan pusat pendidikan Islam dalam kerajaan Riau-Lingga. Di masjid ini sering dilakukan muzakarah (diskusi) oleh ulama-ulama terkenal masa itu tentang seluk-beluk agama Islam. Masjid ini sengaja membuat ruangan (asrama) untuk para musafir dan penuntut agama Islam dan ruang atau bilik muzakarah.

Ruang muzakarah itu pernah dijadikan ruang belajar oleh Madrasah Muallimin yang berdiri tahun 1939 di bawah pimpinan Raja Haji Muhammad Yunus Ahmad. Madrasah Muallimin Pulau Penyengat itu telah memberikan pelajaran meliputi ilmu fardhu a’in dan fardhu kifayah :

  • Logat Arab, Shorof, Nahwu, Al-Qur’anal Azim, Tajwid, Tafsir, Hadits Assyarif, Tauhid, Ushuluddin, Fiqih
  • Tarikh Islam, Tarikh Dunia, Ilmu Bumi, Hisab, Khat, Bahasa Melayu Riau dan Tarikh Riau-Lingga.

Beriringan dengan itu, Raja Ali Kelana dan Syaikh Tahir Jalaluddin mendirikan pula Al Iqbal Al Islamiyah tahun 1909. Kemudian disusul oleh Madrasah Al-Junaid dan Al Syaqaf yang dipimpin oleh keturunan Arab Singapura. Setelah belajar di Riau seperti pulau Penyengat, Singapura maupun Tanjung Malim di Semenanjung Melaka (Malaysia, sekarang) para penuntut ini melanjutkan pelajaran ke negeri Arab, seperti Mesir dan Makkah di Arab Saudi.(bersambung)

(Potensi Lembaga Pendidikan Islam di Riau, UU Hamidy)

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *