Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Bayang-bayang Orang Melayu dalam ‘’Percobaan Setia’’ Soeman Hs (Bagian 1), Oleh: UU Hamidy
Foto: attractionsinmalaysia.com

Bayang-bayang Orang Melayu dalam ‘’Percobaan Setia’’ Soeman Hs (Bagian 1), Oleh: UU Hamidy

  1. Lintasan Riwayat

Dari lima karya kreatif imajinatif Soeman Hs : Kasih Tak Terlarai, Percobaan Setia, Mencari Pencuri Anak Perawan, Tebusan Darah dan Kawan Bergelut, boleh dikatakan, semuanya telah merekam kehidupan puak Melayu di Riau, khasnya puak Melayu di sekitar Selat Malaka.

Dalam hal ini Soeman memang amat berhasil dalam aliran impresionisme. Dia bagaikan cermin yang jernih yang mampu menangkap setiap bayangan yang melintas di depannya. Pengarang yang berhasil menangkap gaya jenaka orang Melayu itu, amat baik sekali kemampuannya merekam berbagai lintasan kehidupan orang Melayu. Dan lebih dari itu, mempunyai kemampuan dan teknik yang serasi pula mengungkapkan kembali semua kesan yang diserapnya.

Soeman memang mempunyai pengalaman jiwa yang luas dan dalam mengenal dunia Melayu. Dia menangkap dalam lintasan pengalamannya bagaimana Kepulauan Riau dengan Selat Malaka sebagai jalur lalu-lintas yang ramai, sehingga hampir segala sektor kehidupan bersentuhan di rantau itu. Kapal karam merupakan berita yang sering muncul dari sana, dan Soeman tertarik pula kepada dunia mata-mata gelap.

Kegiatan mata-mata itu memang mendapat peranan yang istimewa sejak Perang Dunia I sampai Perang Dunia II (1918-1945) dengan Singapura sebagai salah satu kota penting dalam pertarungan spionase tersebut. Kemudian semuanya ini dirangkum oleh Soeman ke dalam dunia Melayu, meliputi agamanya, adat dan tradisi serta gaya penampilan jenaka, lembut dan lemah gemulai sehingga karyanya enak dibaca.

Realitas kemampuan kepengarangan Soeman yang demikian, cukup menarik. Betapa tidak dikatakan demikian, sebab yang pertama beliau sebenarnya bukanlah seorang yang dilahirkan dalam keturunan puak Melayu (dalam arti sempit), sedangkan kedua tingkat pendidikannya yang hanya tamat sekolah guru, tidaklah memberikan dukungan besar bagi kepentingan kreativitas dunia sastra.

Pekerjaan guru yang diceburi oleh Soeman lebih banyak tertuju kepada mengajar dan mendidik, bukan kegiatan mengarang. Sebab itu, tentu ada faktor lain yang telah dimanfaatkan oleh Soeman begitu rupa sehingga potensi kreatif dan imajinatifnya dapat berkembang dengan subur.

Jika kita suka memperhatikan jalan hidup yang telah dilalui oleh Soeman Hs, maka sedikit banyak dapat diungkapkan rahasia keberhasilannya. Sebagai perantau bebas dari Kota Nopan Mandailing, ibu-bapak Soeman ternyata cukup arif menangkap perumpamaan Melayu ‘’di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’’, ‘’di mana kita merantau, di situ air disauk, di situ pula ranting dipatah’’.

Ibu-bapak Soeman ternyata mempunyai kemampuan yang besar menyesuaikan dirinya dengan liku-liku kehidupan puak Melayu di Bengkalis. Hal ini terjadi niscaya oleh suatu kesadaran dan penghayatan yang mendalam, bukan oleh sifat lemah pendirian yang munafik. Bapaknya menampilkan diri bukan dengan simbol Batak seperti memakai panggilan Hasibuan, tetapi terkenal dengan Lebai Hasyim, suatu nama yang amat bercitra Melayu.

Awal riwayat serupa ini tentulah amat besar lagi artinya bagi pembentukan pandangan budaya Soeman. Dalam tingkahlaku budaya ibu-bapaknya telah terjadi suatu transformasi budaya dari citra Batak Mandailing kepada citra Melayu Bengkalis.

Mengapa transformasi budaya ini dapat dilalui oleh Lebai Hasyim (ayah Soeman) niscara berpangkal kepada agama Islam. Gelar ‘’lebai’’ yang telah diberikan kepada ayah Soeman memberi petunjuk bahwa beliau mempunyai kemampuan dalam ilmu-ilmu Islam. Seseorang yang datang kepada puak Melayu dengan memeluk agama Islam akan diterima secara keseluruhan, dan sekaligus dipandang sama martabatnya dengan warga lainnya yang juga mengamalkan ajaran tauhid itu.

Inilah yang membuka pintu transformasi budaya kepada pasangan suami isteri asal Kota Nopan itu. Hasilnya, mereka menampilkan diri sebagai orang Melayu; berbahasa dengan lambang dan kiasan serta berenang dalam adat resam orang Melayu. Riwayat ibu-bapa yang demikian telah memberikan titian yang baik kepada Soeman untuk membentuk dirinya sebagai seseorang budak Melayu dalam masa-masa awal jalan nasibnya.

Soeman yang lahir di Kampung Bantan, Bagansiapi-api tidak lagi dipandang oleh teman-temannya sebagai anak suku lain, tetapi diterima sebagai budak Melayu. Inilah suasana kehidupan yang paling menguntungkan bagi Soeman. Sebab, dia dengan leluasa dan bebas dapat menghirup air dan udara budaya Melayu. Dalam hal ini, dia bagaikan melakukan metode partisipasi dalam bidang antropologi terhadap seluruh aspek budaya Melayu.

Pengalaman Soeman semenjak kecil dengan budak-budak Melayu di Bagan, memberi kesan amat kentara dalam dirinya. Beliau dengan tajam dapat mengenal metafor, simbol dan kiasan yang selalu bermain dalam budaya Melayu sehingga mewarnai pergaulan sosial. Pada sisi lain, tugasnya sebagai guru dapat dipergunakannya, untuk memperjelas dan mengamati berbagai lambang antropologi dunia Melayu di rantau itu. Sebab dalam pergaulan dengan murid-muridnya, Soeman dapat mengenal berbagai pola tingkahlaku budaya puak Melayu. Dengan jalan ini Soeman mengenal sistem nilai dan sistem sosial orang Melayu dengan sempurna. Inilah yang menjadi bekal yang amat berharga bagi pengarang ini untuk mencairkan kreativitasnya sebagai seorang pengarang. (bersambung)

(Jagad Melayu, UU Hamidy)

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (11)

Pekanbaru, 13 Juli 2007 Bung TA Sakti yang baik, Saya telah menerima surat Bung bertanggal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *