Home / Bunga Rampai / Bapak Dosen Sudah Menulis Buku Apa? Oleh: G Moedjanto
Foto: stmarys.ac.uk

Bapak Dosen Sudah Menulis Buku Apa? Oleh: G Moedjanto

Pada hari Ahad, 22 November 1987, kami menghadiri suatu pesta perkawinan putri rekan kami di gedung LPP, Jalan Oerip Sumohardjo, Yogyakarta. Duduk berdampingan dengan saya beberapa rekan dosen, guru dan Pak Gardono, seniman dan pemborong karya seni terutama dari perunggu, yang kakak kandung dari G Sudarto.

Aneh sekali rasanya, Pak Gardono yang seniman perunggu itu sempat bertanya: ‘’Bapak sampun nyerat punapa, handbook utawi sanesipun?’’ Begitu tanyanya dalam bahasa Jawa, yang dalam bahasa Indonesia kira-kira: ‘’Bapak sudah menulis buku apa, handbook atau lainnya?’’

Kalau Prof Sartono yang ditanya, tentu pertanyaan itu dengan jitu akan mendapat jawaban yang sangat memuaskan, karena guru besar ilmu sejarah yang satu ini memang memperoleh reputasi internasional dalam profesi keilmuannya sebagai sejarawan, seperti dibuktikan dengan pesta untuk melepasnya sebagai guru besar pada 1 November 1987 yang lalu.

Andaikata pertanyaan Pak Gardono disampaikan kepada saya tahun 1970, maka saya agak tersipu-sipu juga, karena setelah 7 tahun menjadi dosen, belum satu pun buku yang saya tulis. Artinya, kalau pertanyaan itu diajukan pada tahun 1970, saya terpaksa dengan kecut menjawab: ‘’Belum satu pun!’’

Namun karena pertanyaan itu disampaikan pada tahun 1987, saya bersyukur, karena pertanyaan itu mendapat jawaban positif. Ada beberapa buku yang telah saya hasilkan dalam bentuk dicetak: yang terakhir adalah The Concept of Power in Javanese Culture (Gama Press, 1986). Kalau saya tidak mempunyai karya itu, saya sungguh klicutan (malu, tersipu-sipu). Mengapa? Karena saya sudah dosen senior, dengan pangkat lektor kepala atau golongan IV/c.

Arti Pertanyaan Pak Gardono

Apa yang ditanyakan Pak Gardono mungkin merupakan pertanyaan seniman: kalau mengaku sebagai pematung, sudah membuat patung apa saja? Kalau mengaku menjadi pelukis, sudah melukis apa saja? Kalau mengaku menjadi arsitek, sudah membuat gambar bangunan apa saja? Begitu seterusnya analoginya dapat dibuat.

Jadi, kalau pertanyaan itu itu ditujukan kepada saya, seorang dosen senior dengan pengalaman kerja lebih dari 25 tahun, pertanyaan ittu sungguh menggelitik: Bapak sudah menulis buku apa? Betapa tidak, seorang dosen senior, apalagi untuk mereka yang golongannya lebih tinggi, sudah IV/d atau IV/e (guru besar). Sangat diharapkan, mereka telah menulis buku ilmiah sesuai dengan disiplin keahliannya.

Betapapun seorang dosen berpangkat tinggi, ia kurang bernilai kalau hanya mempunyai kemampuan mengajar, meski kemampuan mengajar bukannya tidak penting bagi dosen. Namun sebagai ilmuwan, dosen diharapkan memberi sumbangan ilmiah yang dapat dipegang, jadi harus tertulis hitam di atas putih.

Lagi pula dosen senior sering menjadi pembimbing banyak mahasiswa, yang dituntut menulis skripsi atau tesis. Kadangkala tuntutan mereka aneh-aneh. Nah, mengingat itu adalah salah satu yang harus dikerjakan dosen, khususnya yang senior, maka layak kalau dosen sendiri mampu membuktikan, bahwa ia orang yang tepat menjadi pembimbing penulisan skiripsi atau tesis. Aneh bukan, bahwa pembimbing penulisan tesis atau skripsi tidak menghasilkan karya ilmiah yang diterbitkan? Bagaimana orang dapat membimbing, kalau dirinya hanya dapat menulis satu kali, yaitu skripsinya sendiri? Dan kita semua tahu, bahwa penulisan skripsi itu tidak mandiri, melainkan dibimbing oleh orang lain. Jadi, bagaimana mungkin orang yang baru sekali membuat karya tulis di bawah bimbingan orang lain, belum mandiri, lalu bertugas menjadi pembimbing?

Pengembangan Budaya Menulis

Ada sindiran, bahwa orang Indonesia itu berkebudayaan lisan. Kepandaianya omong, kadangkala dalam bentuk negatif ngrasani (membicarakan keburukan orang lain), sangat terkenal, lebih-lebih di kalangan wanitanya. Berjam-jam orang Indonesia betah berbicara.

Namun dalam hal menulis, orang Indonesia mesti mau mengakui kekurangannya. Budaya menulis buah pikiran, renungan atau penalaran belum memiliki jangkauan yang luas, sebanding dengan makin banyaknya orang terpelajar Indonesia. Bahkan kerap kali membuat laporan tertulis tentang tugas yang baru dikerjakannya saja, masih belum dapat atau tidak mau.

Mengapa budaya menulis penting dikembangkan? Pertama, karena memang budaya menulis belum dihayati secara merata oleh mereka yang sebenarnya layak melakukan budaya ini, apakah itu sarjana, dosen, pejabat atau bahkan orang biasa.

Kedua, uraian lisan sering tidak jelas pangkal dan ujungnya, tidak dapat dipegang. Karena itu, budaya menulis perlu dikembangkan, agar argumentasi kita diketemukan secara tersusun dan bertanggung jawab. Uraian yang ditulis tidak dapat dielakkan seperti uraian lisan, sekadar dengan mengatakan, bahwa ‘’saya tidak mengatakan demikian.’’

Alasan ketiga bersifat historis. Kalau kita ingin membantu berkembangnya ilmu atau unsur budaya lain kepada generasi yang akan datang, sebaiknya apa yang telah kita hasilkan sekarang didokumentasikan. Dengan demikian, generasi penerus untuk dapat maju tidak perlu mulai dari nol, melainkan cukup melanjutkan apa yang sudah dihasilkan angkatan sebelumnya.

Keempat, dan mungkin ini menyangkut keseluruhan, budaya menulis perlu dikembangkan, karena merupakan sarana berkomunikasi, bagi dosen dalan dunia ilmu dan dengan pihak yang kita tidak dapat tatap muka.

Bagaimana Mulai Menulis?

Menulis memang mudah-mudah sukar. Orang tertentu berkata, kalau menulis itu mudah. Namun kenyataan menunjukkan, bahwa menulis memang tidak semudah omong. Banyak dosen mengeluh, karena dalam aturan kenaikan golongan ada tuntutan membuat karya ilmiah secara tertulis atau tulisan ilmiah. Ada kesan, mereka senang menjadi dosen, tetapi menulis karya ilmiah tidak.

Sebagaimana sudah disebut di depan, kalau dosen ingin bergengsi, niscaya ia harus menulis karya ilmiah. Tidak ada jalan lain. Main jiplak karya ilmiah orang lain mesti dihindarkan dan pelakunya dihukum. Kalau dosen ketahuan menjiplak, kedudukannya dipindahkan dari tenaga akademik yang mendapat tunjangan fungsional, ke tenaga administratif yang tidak mendapat tunjangan fungsional. Juga mesti dihindarkan dosen titip nama dalam penelitian ilmiah. Artinya, ia tidak ikut meneliti, tetapi minta supaya namanya dicantumkan dalam laporan sebagai ikut meneliti. Ini sering saya dengar.

Mengingat, menulis karya ilmiah tidak terhindarkan, sebaiknya dosen memulai saja. Bagaimana caranya? Ibarat orang belajar berenang, silakan terus saja terjun ke kolam renang. Bila Anda masih ingin hidup, Anda pasti akan bergerak, dan inilah modal pertama untuk dapat terapung dan mengapung: bergerak dan bergerak terus. Berhenti bergerak, tenggelamlah.

Baru kemudian sesudah dapat mengapung, kita belajar teori berenang, supaya gerak kita produktif atau efisien, dan mungkin juga cantik. Ada buku-buku tentang karang mengarang yang dapat dipelajari.

Dalam hal mengarang, pennulis mempunyai pengalaman seperti itu. Terus saja mengarang. Karena itu, semula juga tidak pernah menyaksikan tulisannya muncul di majalah atau koran. Namun dengan mempelajari karangan-karangan yang termuat di majalah atau koran, kepandaian menulis diperbaiki. Pada umumnya polanya sama, mulai dengan pendahuluan yang berisi latar belakang, muncullah persoalan, lalu persoalan ini dibahas dengan membuat uraian. Untuk dapat membuat uraian, memang penulis harus memiliki bekal pengetahuan. Dan ini hanya dapat diperoleh dengan membaca atau meneliti. Dengan menjawab pertanyaan secara terurai, jadilah karangan itu.

Kalau kita lalu mengirimkan tulisan itu ke media massa, apalagi yang telah bernama besar, jangan harap sekali kirim lalu dimuat. Itu masih tergantung dari apakah masalahnya aktual dan uraiannya cukup ilmiah dan tidak dalam nada yang tinggi. Media massa juga perlu menjaga keselamatannya sendiri.

Nah, para dosen, silakan mulai saja. Kalau perlu, mulailah dengan memaksakan diri untuk mengarang. Buatlah mengarang itu hukumnya wajib. Jika kita merasa berdosa karena tidak berpuasa pada waktu yang diperintahkan agama, maka merasalah berdosa karena tidak menjalankan kewajiban menulis karya ilmiah sebagai dosne. Saya tidak menggurui, tetapi sekadar membagi pengalaman.***

G Moedjanto, Dosen Ilmu Sejarah pada IKIP Sanata Dharma

Tulisan ini dimuat di harian Kompas pada 11 Januari 1988 dan didokumentasikan oleh Bilik Kreatif.

Check Also

”Apa yang Sudah Bung Tulis?”, Oleh: Purnimasari

Selain karena berkah dan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang paling utama, salah satu hal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *