Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bagaimana Budak-budak Melayu Dibesarkan, Oleh: UU Hamidy
Foto: ms.upinipin.wikia.com

Bagaimana Budak-budak Melayu Dibesarkan, Oleh: UU Hamidy

Hampir tak ada beda perlakuan pihak ibu-bapa kepada anaknya, apakah lelaki atau perempuan. Anak lelaki dan perempuan relatif sama saja. Biasanya orang Melayu merasa tidak bahagia jika tidak mempunyai anak lelaki dan perempuan. Jika baru hanya punya anak lelaki atau perempuan saja, mereka masih berusaha agar mendapatkan keduanya. Pada masa dulu (sampai sekitar tahun 1950-an), memang ada sedikit kecenderungan pihak ibu-bapa merasa lebih dekat kepada anak perempuan daripada yang lelaki. Ini terjadi, pertama karena anak perempuan relatif lebih cepat membantu ibu-bapanya. Anak perempuan dengan cepat dapat menolong betanak-menggulai, mencuci dan membersihkan rumah. Bahkan juga menolong beladang. Sedangkan anak lelaki agak lambat baru dapat menolong ibu-bapanya. Kemudian daripada itu, pihak ibu-bapa biasanya pada hari tua lebih suka tinggal di rumah anaknya yang perempuan. Ini terjadi karena yang hampir selalu berada di rumah itu biasanya pihak perempuan. Sementara itu ada kebiasaan orang Melayu menyerahkan rumah buatan ibu-bapanya kepada anak perempuan yang bungsu. Jika mereka ikut dengan anak lelakinya, bisa terjadi semacam rasa canggung, kecuali menantunya (isteri anaknya itu) memang pandai membawakan diri terhadap mertuanya itu.

Setelah orang Melayu itu mendapatkan anak yang pertama, maka biasanya berubah pulalah panggilan suami-isteri. Semula pihak isteri memanggil suami dengan kata ‘’abang’’, dan suami memanggil isteri dengan kata adik atau adinda. Tapi setelah mereka punya anak, maka isteri memanggil suaminya dengan kata bapak anak. Malah sering dipakai anaknya itu dalam panggilan. Jika anaknya yang pertama itu bernama Muhtar misalnya, maka dipanggillah suaminya itu dengan Pak Utar, sedangkan isterinya dengan Mak Utar. Panggilan ibu-bapa itu memang beragam. Ada yang memakai pasangan ibu-bapa, ayah-ibu, bapak-emak, ayah-emak dan sebagainya.

Budak-budak Melayu dibesarkan dengan mengenal berbagai resam atau kebiasaan yang berlaku. Dalam rentangan umur 1-5 tahun, dia mungkin tidak dipanggil dengan nama yang sebenarnya. Karena budak atau anak itu menjadi pusat perhatian keluarga, teman bermain dan bergurau, maka dia sering dipanggil dengan nama timang-timangan. Nama timang-timangan itu biasanya bernada lucu dan menyindir dengan jenaka, sesuai dengan suasana ria jenaka yang diharapkan. Pada masa ini dia mendengar berbagai cerita jenaka dari datuk dan neneknya. Di antara cerita jenaka itu terkenallah berbagai versi cerita binatang, burung dan ikan. Tokoh kancil, harimau, gergasi, siput dan bermacam burung, banyak sekali memainkan peranan dalam dongeng-dongeng tersebut.

Tokoh kancil yang cerdik dapat memberikan semacam tunjuk ajar Melayu, bahwa para penguasa yang menghandalkan kekuatan dan senjata seperti yang dilambangkan oleh harimau dan gergasi, hanya dapat dihadapi dengan akal yang cerdik. Cerita itu telah memberikan bayangan bahwa kekuasaan itu biasanya diikuti oleh kesombongan, keangkuhan dan keserakahan, sehingga sering berlaku curang. Untuk meluruskannya diperlukan ada orang yang bijaksana, agar kekuasaan yang cenderung menindas itu, dapat dipandu sehingga tidak sampai berbuat zalim terhadap orang banyak. Kancil sebagai lambang cendikiawan, juga sekaligus memberi petunjuk, bahwa rakyat yang bodoh akan selalu jadi mangsa oleh penguasa yang sering melanggar peraturan, meskipun peraturan itu dia sendiri yang membuatnya.

Dalam rentangan umur antara 6-10 tahun, anak-anak itu diajarilah mengaji. Tempat mengaji itu kebanyakan di surau, tapi juga bisa di mesjid atau di rumah. Pelajaran mengaji di surau pada masa dulu lazim dimulai lebih dahulu dengan menyebut perkara shalat secara serentak, mulai dari wajjahtu sampai tahyat dan salam. Dengan cara ini maka semua murid dengan mudah menghapal bacaan dalam melakukan shalat. Tiap murid dengan mudah melakukan shalat, setelah melihat dan meniru gerak-gerik orang shalat. Tinggal menyesuaikan bacaan dengan gerak-gerik tersebut.

Pelajaran mengaji itu sebagian besar terdiri dari pelajaran membaca kita suci Al-Qur’an. Mengaji biasanya dilakukan malam hari, selepas waktu Maghrib sampai tibanya waktu Isya. Metoda tradisional lazim dipakai, yakni murid-murid duduk dengan posisi melingkar, memegang kitab masing-masing, dibimbing oleh seorang guru. Mula-mula guru menyuruh murid membaca kaji yang telah dipelajari bersama-sama. Jika tak ada lagi kesalahan, dimulailah dengan pelajaran baru. Guru membacakan pelajaran baru, diikuti atau disimak oleh semua murid. Setelah itu murid membaca bergantian, disimak oleh guru dan murid lainnya. Jika ada kesalahan, dibetulkan lagi oleh guru. Bila semua murid telah membaca dengan baik, berakhirlah pelajaran mengaji malam itu.

Pelajaran mengaji Al-Qur’an secara tradisional itu biasanya dibagi atas 3 tingkat. Pertama, tingkat alif ba ta, yaitu pelajaran mengeja dan merangkai bunyi bahasa Arab, lalu diakhiri dengan menghapal ayat-ayat pendek untuk dipakai dalam shalat. Di atas itu tingkat Qur’an kecil, yaitu pelajaran membaca yang mulai memperhatikan kaidah hukum bunyi yang disebut tajwid. Pada tingkat ini biasanya dibaca Surah Al-Baqarah. Akhirnya barulah tingkat Qur’an besar, yaitu pelajaran membaca Al-Qur’an dengan qira’ah yang baik. Dalam bagian ini kitab itu dibaca sampai tamat.

Pelajaran mengaji itu biasanya dapat selesai sekitar 2-3 tahun. Setelah tamat, diadakan upacara khatam Qur’an. Dalam upacara itu anak-anak peserta khatam, ada yang dimasukkan ke dalam keranda yang dibuat dengan bermacam motif, seperti kapal, burung, buraq dan sebagainya. Ada juga yang dijulang, jika masih kecil. Dengan pakaian yang indah, mereka diarak berkeliling kampung. Upacara disudahi dengan makan bersama ditutup dengan doa.

Mengaji di surau atau di mesjid, barulah memberikan kepandaian membaca Al-Qur’an. Untuk memberikan muatan ilmu lainnya, maka pada masa dulu didirikanlah madrasah. Madrasah itu dibuka siang hari, dan kebanyakan belajar petang hari. Ini terjadi, karena para guru yang mengajar mencari nafkah pagi hari. Di Riau, mungkin Kerajaan Siak Sri Indrapura sebagai kerajaan yang pertama mendirikan madrasah. Tahun 1917, Sultan Syarif Qasim II (1915-1949) mendirikan Madrasah Tufikiyah Hasyimiyah tingkat ibtidaiyah dan tsanawiyah di Siak. Kemudian tahun 1929 didirikan lagi Latifah School untuk pendidikan anak perempuan. Jadi di Siak, madrasah dan pendidikan sekolah model Barat berjalan seiring.

Barangkali salah satu madrasah yang paling baik pembinaannya di Riau ialah Madrasatul Muallimin di Pulau Penyengat yang berdiri 1939. Madrasah ini dipimpin oleh Raja Haji Muhammad Yunus Ahmad (ayah Hamzah Yunus Ketua Yayasan Kebudayaan Indrasakti di Pulau Penyengat, juga ayah Hasan Junus pengarang Riau satu-satunya yang menguasai bahasa Perancis dengan baik). Madrasah ini telah memberikan pelajaran meliputi ilmu fardhu a’in (ilmu-ilmu pokok ajaran Islam) dan ilmu-ilmu fardhu kifayah (ilmu tentang manusia dan pasti alam). Adapun ilmu-ilmu Islam yang pokok meliputi logat Arab, syaraf, nahu, Al-Qur’an Azim, tajwid, tafsir, hadist assyarif, tauhid, ushuluddin dan fiqih. Sedangkan ilmu fardhu kifayah diajarkan mencakup tarikh Islam, tarikh dunia, ilmu bumi, hisab, khat, bahasa Melayu Riau, dan tarikh Riau-Lingga.

Setelah tamat pelajaran mengaji dan belajar di madrasah dengan memadai, barulah pelajar atau penuntut ilmu itu melanjutkan pelajaran ke luar Riau. Di antara tujuan pelajaran lanjutan itu ialah Mekkah, kemudian amat disukai pula Universitas Al Azhar di Mesir. Jika yang dua itu tidak dapat dicapai, maka ada yang belajar pada Madrasah Al Junaid di Singapura, Madrasah Tanjung Malim di Malaysia. Sementara di belahan daratan seperti Rantau Kuantan (Indragiri) dan Kampar banyak yang berguru ke Minangkabau.

Dalam rentangan umur 6-10 tahun itu, budak-budak (anak-anak) melayu juga telah berlatih berbagai keterampilan. Mereka belajar berenang, mendayung sampan atau perahu, membuat rakit, bahkan juga memanjat pohon. Beberapa pekerjaan mulai dilakukan seperti menanam padi, menyiang, betanak menggulai, mengupas kelapa, mencari ikan, menyadap getah dan membuat kopra. Di samping itu kehidupan tradisional juga pernah mengajar anak-anak membuat berbagai barang anyaman seperti tikar, bakul, ambung, kembut dan lain sebagainya. Pekerjaan ini sering dilakukan di malam hari atau sebagai pengisi waktu senggang di rumah maupun di pondok penunggu ladang.***

(Riau Doeloe-Kini dan Bayangan Masa Depan, UU Hamidy)

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *