Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Badan Dakwah Islam IKIP Malang Menangkis Maksiat PKI di Kampus, Oleh: UU Hamidy
Foto: um.ac.id

Badan Dakwah Islam IKIP Malang Menangkis Maksiat PKI di Kampus, Oleh: UU Hamidy

  1. Yang Haq Menghancurkan yang Bathil

Allah Yang Maha Bijaksana menciptakan alam dan seisinya dengan tujuan yang benar, bukan main-main. Dia ciptakan manusia (dan juga jin) hanya untuk beribadah dan menyembah kepada-Nya. Dia turunkan syariah Islam agar umat manusia menempuh jalan hidupnya dengan hukum yang adil lagi benar. Tapi ternyata, banyak manusia yang engkar terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Manusia yang engkar ini tertipu oleh syetan melalui angan-angan dan akalnya yang sempit. Inilah yang menyebabkan umat manusia jadi kafir, zalim dan fasik. Mereka memandang segala kemusyrikan dan maksiat yang mereka lakukan sebagai kebaikan. Padahal, itu adalah jalan sesat yang akan menjerumuskan ke dalam neraka. Al-Qur’an menyampaikan yang haq agar hancur yang bathil, bagaikan cahaya menghilangkan kegelapan.

Maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diberi peluang oleh Allah untuk memerangi umat manusia sampai mereka mengucapkan ‘’la ilaha illa Allah, Muhammadar Rasulullah’’ serta menegakkan shalat dan membayar zakat. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyampaikan Al-Qur’an dan as-Sunnah kepada umat manusia sebagai pedoman hidup yang benar agar kelak dapat masuk surga tempat kehidupan yang sebenarnya.

Dengan menerima Islam, umat manusia menjadi umat yang terbaik sebab mereka menyeru kepada yang makruf, mencegah yang mungkar serta mengajak kepada jalan Allah yang lurus. Al-Qur’an dan as-Sunnah memberikan kategori haq-bathil, halal-haram, dosa-pahala agar manusia menempuh hidupnya diridhai Allah Yang Maha Pemurah. Itulah sebabnya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam disebut Junjungan Alam karena menjadi rahmat bagi segenap alam.

2. BDI IKIP Malang Menangkis Maksiat PKI

Gerak langkah Partai Komunis Indonesia (PKI) merebut kekuasaan di Indonesia dapat ditandai dengan beberapa matarantai. Pertama, PKI mendapat jalan karena syariah Islam dicoret dalam Undang-Undang Dasar ’45 (UUD ’45). Peristiwa ini menyebabkan tak ada lagi ruh Islam dalam pemerintahan Indonesia.

Kedua, setelah partai Islam Masyumi dibubarkan oleh Presiden Soekarno, maka PKI hampir tak punya lawan lagi dalam percaturan politik di Indonesia. Sebab Masyumi-lah satu-satunya partai Islam yang berani menentang ide-ide PKI yang hendak membawa bangsa Indonesia kepada jalan yang sesat.

Ketiga, konfrontasi pemerintah Soekarno terhadap Malaysia yang dipimpin oleh Tengku Abdul Rahman, membuat ekonomi Indonesia berantakan sedangkan pada sisi lain memutus persaudaraan seiman umat Islam. Ekonomi jadi hancur sebab bahan baku dari Indonesia seperti karet dan kopra tak dapat lagi dijual pada Singapura sebagai pelabuhan antar-bangsa. Konfrontasi itu dari sudut ajaran Islam sama dengan memusuhi saudara sendiri.

Keempat, poros Nasakom (Nasional, Agama dan Komunis) yang dibentuk oleh Soekarno benar-benar memberi darah segar pada PKI. Sebab dengan poros itu, Indonesia bekerja sama dalam politik dengan Partai Komunis China sehingga terkenal pula poros Peking-Jakarta. Poros Nasakom membuat Pancasila diperas menjadi eka sila yakni gotong-royong. Inilah faktor kelima yang sangat menguntungkan PKI sebab Pancasila telah kehilangan episentrum kekuatannya.

Matarantai perubahan iklim politik dan pemerintahan ini walaupun melalui tangan pemerintahan Soekarno, tapi seyogianya karena kelihaian PKI bermain politik dalam kancah pemerintahan Soekarno. Karena itu, rangkaian perubahan ini benar-benar digunakan oleh PKI untuk mengatur siasat merebut kekuasaan.

Untuk memantapkan siasatnya, PKI melakukan lagi dua langkah tambahan yakni menyusupkan kader PKI ke dalam lembaga dan organisasi yang sudah ada serta membuat organisasi dan lembaga baru yang benar-benar berisi ideologi komunis. Peyusupan kader PKI terhadap lembaga (organisasi) yang sudah ada itu disebut juga Teori Sel. Tetapi sebenarnya lebih tepat dikatakan Teori Parasit atau Teori Benalu.

Inilah yang dilakukan terhadap organisasi buruh, tani dan nelayan sehingga akhirnya organisasi itu menjadi merah alias didominasi oleh PKI. Penyusupan yang paling strategis adalah terhadap lembaga alat negara yakni tentara dan polisi. Sebab akan menjadi ujung tombak yang ampuh untuk merebut kekuasaan sebagaimana nanti terbuki dalam peristiwa Gestapu/PKI (Gerakan Tiga Puluh September/PKI) yang meletus tahun 1965.

Sedangkan terhadap organisasi dan lembaga yang belum ada, PKI membentuk sendiri sehingga langsung dipakai sebagai kuda tunggangan. Maka berdirilah Pemuda Rakyat, Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), CGMI (Central Gerakan Mahasiswa Indonesia) dan Lekra (Lembaga Kesenian Rakyat). Organisasi dan lembaga ini benar-benar didirikan dengan azas dan ideologi komunis sehingga anggotanya membela PKI mati-matian.

Melihat PKI berhasil mendominasi berbagai lembaga dan organisasi, kemudian lebih kokoh lagi oleh lembaga dan organisasi yang dibuatnya, maka suasana kehidupan bermasyarakat dan negara dinaikkan temperaturnya oleh PKI dengan berbagai pertemuan, apel, pawai dan kegiatan lainnya. Tiap diadakan apel dan pawai, pendukung PKI tampil menyombongkan diri.

Mereka berteriak-teriak sepanjang jalan dengan bermacam yel memuji diri serta menghina, merendahkan pihak lain yang dipandang sebagai lawan. Di antara yel-yel itu yang paling lantang ialah ‘’hidup buruh tani’’, ‘’ganyang Malaysia’’, ‘’ganyang setan desa’’ dan ‘’ganyang kaum sarungan’’. Siapa yang dituding dengan ‘’setan desa’’ antara lain adalah orang Islam yang relatif kaya dan berpengaruh di desa. Sedangkan yang dimaksud dengan ‘’kaum sarungan’’ adalah santri dan ulama.

Melihat kehidupan beragama dan bermasyarakat yang makin diharu-biru oleh PKI maka umat Islam yang punya akal sehat merasa harus bangkit membela aqidah dan imannya yang terancam. Kesadaran inilah yang membuahkan gagasan mahasiswa yang didukung oleh para dosen yang beragama Islam membentuk Badan Dakwah Islam (BDI) Institut Keguruan dan Ilmu Pnedidikan (IKIP) Malang.

BDI IKIP Malang ditaja tahun 1965, yakni ketika PKI telah berani memperlihatkan taringnya untuk memegang tampuk kekuasaan. BDI IKIP Malang berdiri dengan pemegang teraju Mahmud Maffiare BA, sarjana muda keturunan Bugis Makassar; Latifah sebagai bendaharawan keturunan Jawa dan UU Hamidy sebagai sekretaris dari belahan Melayu Riau.

BDI IKIP Malang berdiri dengan keberadaan yang cukup istimewa. Lembaga ini tidak berada di bawah suatu lembaga atau organisasi tertentu seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Jadi lembaga ini tidak bernaung kepada suatu organisasi. Karena itu dapat dipandang menjadi milik semua umat Islam.

Lembaga ini didirikan oleh mahasiswa yang bebas dari kepentingan kekuasaan dan materi. Karena itu, setelah BDI berdiri, segera disusun rencana dan siasat dalam bingkai membela umat memelihara agama Islam yang sempurna. Maka arah tindakan adalah menangkis segala maksiat dan intimidasi (fitnah) PKI terhadap umat Islam.

Pertama, menjalin persaudaraan dalam tindakan yang benar berbagai organisasi mahasiswa Islam agar dapat membentengi umat dari berbagai siasat licik PKI. Maka dalam kegiatan dakwah Islam, BDI merangkul Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang sering diejek PKI sebagai antek masyumi, PMII (Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia) yang bernaung di bawah Nahdlatul Ulama dan SMII (Serikat Mahasiswa Islam Indonesia) di bawah naungan Partai Serikat Islam Indonesia (PSII).

Kedua, mengadakan berbagai ceramah dan dakwah tentang keislaman agar umat mendapat siraman keimanan dan aqidah yang benar untuk menghadapi kampanye ideologi komunis dari PKI yang selalu anti-agama terutama agama Islam. Ketiga, melakukan pertemuan untuk mempererat persaudaraan seiman ketika memperingati hari besar Islam dengan mengadakan diskusi dan ceramah tentang Islam dalam masyarakat dewasa itu.

Keempat, pada musim hari raya haji (Idul Adha) karena tak ada orang yang qurban atas nama pribadi—lantaran ekonomi sangat sulit—maka BDI mnegumpulkan uang dari para dosen, pegawai, mahasiswa dan warga masyarakat seberapa mereka rela. Uang itu kemudian dibelikan kepada beberapa ekor kambing lalu disembelih di kampus. Dagingnya dibagikan kepada pegawai dan keluarga dosen serta warga lain yang berdampingan dengan kampus.

Kelima, BDI juga ikut menjadi mata-mata terhadap gerak-gerik PKI yang punya tendensi untuk mencelakakan tokoh umat Islam terutama para dosen. Dalam keadaan gawat, tokoh ini akan dikawal pergi memberi ceramah dan pulang dari tempat tersebut.

Seiring dengan perjalanan waktu yang sepenuhnya berada di bawah kehendak Allah Yang Maha Kuasa, maka dengan berbagai siasat dan strategi akhirnya PKI merasa percaya diri merebut kekuasaan di Indonesia. Meletuslah peristiwa G30S/PKI (Gerakan 30 September PKI) yang dimulai dengan menculik para jendral yang dipandang akan menghalangi jalan PKI memegang teraju kekuasaan.

Singkat cerita, PKI membuat tipu daya tetapi ternyata tipu daya mereka mereka berada dalam kekuasaan Allah Yang Maha Perkasa. Maka hancurlah makar mereka dan terpeliharalah umat Islam yang bergantung kepada Allah Yang Maha Kuasa. Allah biarkan sebentar PKI bersenang-senang dengan segala perbuatan maksiatnya, kemudian dihempaskan oleh Allah ke dalam kehinaan.

Nasib PKI yang telah terjerembab dengan kesombongannya ini ternyata telah memberi hikmah kepada sejumlah umat Islam yang sudah tertipu oleh PKI, terutama kalangan orang miskin seperti buruh dan tani. Setelah gembong-gembong PKI ini ditumpas oleh kalangan berwajib (tentara) yang dibantu sepenuhnya oleh umat Islam, maka bagi yang terlibat atau yang simpati kepada PKI selama ini tak ada lagi jalan lain selain mencari perlindungan kepada bendera Islam.

Maka ramailah masjid dan musholla didatangi oleh warga yang selama PKI berjaya mereka tak pernah muncul di situ. Mereka ada yang hanya ke masjid sekedar mencari selamat agar tidak dituduh PKI. Tapi sebagian lagi in syaa Allah pada zahirnya memang sudah tobat karena semenjak peristiwa G30S/PKI itu mereka berjamaah bersama umat Islam di masjid.

3. Khatimah

Setelah kudeta Gestapu PKI berantakan, tampillah Angkatan ’66 yang didominasi oleh mahasiswa Islam. Mereka berusaha mengawal pemerintahan agar tidak lagi dikangkangi oleh ideologi sesat dari PKI. Maka untuk uji coba normalnya keadaan bermasyarakat, BDI IKIP Malang mengadakan Simposium Poligami.

Simposium ini cukup menarik sebagai bahan uji coba keberadaan umat Islam sebab masalah poligami ini selalu menjadi bahan cercaan PKI terhadap syariah Islam di samping juga tudingan miring dari pemeluk non-Islam untuk memberi citra buruk terhadap agama Islam. BDI menampilkan tokoh yang cukup handal masa itu yakni Drs Umar Maksum seorang dosen IAIN, berhadapan dengan beberapa pastor dari kalangan Katholik dan Kristen.

Saya sebelum simposium itu ditampilkan sudah banyak bertukar pikiran dengan Mayor Zainuri, Rohdim Brawijaya Malang untuk memperhatikan pandangan dan masukannya tentang keadaan umat Islam dewasa itu. Dia cukup maklum mengapa BDI menampilkan simposium itu.

Setelah itu, baru saya menghadap Kolonel Sumadi, Kodim Brawaijaya Malang untuk minta pandangannya, persetujuan dan sekaligus izinnya. Dengan nada bergurau dia berkata, ‘’Sanggup kamu jaga keamanan?’’ Saya jawab, ‘’Sanggup Pak. Kalau in syaa Allah ada anak buah Bapak yang menjaga.’’ Dengan senyum dia menimpali, ‘’Tak usah takut. In syaa Allah anak buah saya akan menjaga dengan pakaian preman.’’

Nukilan kisah BDI IKIP Malang ini diturunkan dengan niat memberi pelajaran bagi kita umat Islam bagaimana kita harus membela aqidah Islam yang selalu digempur dari berbagai arah oleh kalangan pembenci Islam. Saya bersyukur kepada Allah, yang telah memberi peluang kepada saya berbuat apa adanya demi kejayaan Islam melalui BDI IKIP Malang. Semoga hal ini menjadi sebab amal shaleh bagi saya dan teman-teman yang sudah berpartisipasi mendukung segala kegiatan BDI IKIP Malang.

Sekarang tahun 2020, kita juga harus bersyukur kepada Allah Ta’ala karena telah banyak mendapat kajian sunnah yang disampaikan oleh para ustadz tamatan Universitas Islam Madinah. Marilah kita bersihkan tradisi kita beragama yang berbau syirik kepada tauhid yang murni. Marilah kita hijrah dari terbiasa beramal dengan warna bid’ah kepada sunnah, sesuai dengan yang diajarkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan para sahabat. Ini in syaa Allah akan menjadi angin segar bagi kebangkitan Islam menjadi agama yang berada di atas segala agama, sebagaimana dijanjikan Allah Tuhan Seru Sekalian Alam.

Selanjutnya, meskipun PKI secara organisatoris sudah dilumpuhkan, tetapi ideologi kufur komunis tidak sendirinya tersingkir oleh lumpuhnya PKI. Ideologi tidak dapat dimusnahkan selama masih ada orang atau khalayak yang meyakininya. Kenyataan memberi bukti, anak-anak keturunan PKI masuk ke dalam berbagai lembaga dan organisasi. Lalu dari situ mereka menyerang Islam dengan jubah demokrasi yang memakai perisai dari hak asasi manusia (HAM).

Malah sudah ada anak PKI yang berhasil menjadi anggota DPR lewat partai politik yang tidak anti PKI dengan lantang mengatakan lewat media, ‘’Saya bangga jadi anak PKI’’. Pendukung ideologi komunis ini bekerja sama dengan kaum liberal sekuler berusaha terus membuat citra yang buruk terhadap Islam dan terutama syariah Islam yang akan mengatur umat dengan sempurna.

Kemudian kita justru harus lebih waspada terhadap ajaran sesat dan menyesatkan dari Ahmadiyah yang mengakui ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Mereka ini sepintas lalu tidak mengganggu kita umat Islam. Tetapi mereka membuat opini kita menzalimi mereka sehingga juga memberi gambaran buruk terhadap Islam yang rahmatan lil alamiin.

Lalu yang lebih berbahaya lagi serangan aqidah yang menyimpang dari Syi’ah yang mengkafirkan para sahabat serta menempatkan para imam mereka setara dengan para nabi bahkan lebih. Ini semuanya harus jadi pelajaran oleh orang yang punya akal sehat yang dipandu oleh aqidah yang murni dari Al-Qur’an dan as-Sunnah.

Jika kita ingin selamat dengan Islam, maka marilah kita menganut Islam sebagaimana para sahabat melakukannya sehingga mereka dijanjikan oleh Allah akan masuk surga yang belum pernah dilihat oleh mata serta belum pernah terlintas dalam hati.*** 

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *