Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Andaikan Dosa Berbau Busuk, Oleh: UU Hamidy

Andaikan Dosa Berbau Busuk, Oleh: UU Hamidy

Allah Swt Maha Bijaksana. Cobalah bayangkan andaikan dosa diberi bau busuk oleh Allah, lalu apa yang akan terjadi? Maka, makin banyak atau makin besar dosa seseorang, tentu dia akan semakin busuk. Dia bisa sama dengan bau bangkai bahkan buntang yang bau busuknya merebak ke mana-mana. Sungguh amat nyata sekali Allah Maha Lemah Lembut terhadap hamba-Nya. Dangan dosa tidak berbau busuk maka manusia dapat bergaul dengan udara yang relatif nyaman. Tidak perlu menutup hidung ketika berhadapan dengan seorang pelaku maksiat. Di dunia (negeri yang dekat) ini para pelaku syirik dan dosa besar lainnya, bisa lebih harum daripada orang yang memelihara dirinya dari maksiat. Sebab dia dapat memakai minyak wangi yang mahal yang harum baunya.

Kenyataan ini hendaknya menjadi iktibar bagi insan yang menyadari makna penciptaannya, Allah membimbing umat manusia agar selamat bidup di dunia serta bahagia di akhirat dengan masuk surga. Seorang insan handaklah berjalan hati-hati hidup di muka bumi, bagaikan melalui jalan yang banyak duri. Duri-duri pada jalanan dunia itulah yang merupakan larangan yang jika diinjak akan mendatangkan dosa yang akan mengancam keselamatan kita. Kita hendaklah memandang dunia sebagai perantauan. Kebahagiaan hidup yang sejati bukan di perantauan, tapi di akhirat. Maka kumpulkanlah amal saleh di dunia untuk hidup bahagia yang abadi.

Bersabit dengan itu, Junjungan Alam Nabi Muhammad Saw berpesan bahwa dunia adalah penjara bagi orang mukmin tetapi surga bagi orang kafir. Siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya, Allah akan membuat dia berantakan. Sebaliknya yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utama, dia akan mendapatkan kekayaan hati dan dunia akan datang dengan sendirinya kepadanya. Bagitulah keberuntungan mukmin sejati di atas azab yang akan menimpa orang kafir.

Dosa diciptakan Allah tidak berbau busuk agar menjadi medan ujian kepada umat manusia. Dosa tidak berbau busuk agar manusia tidak segera dipermalukan oleh parbuatannya. Dengan demikian pelaku maksiat itu masih punya martabat di mata manusia. Keadaan ini sejajar dengan penciptaan surga dan neraka. Surga dengan nikmat abadi tiada bandingan dilapisi Allah dengan perkara yang tidak menyenangkan. Sedangkan neraka dengan azab yang pedih dilapisi Allah dengan segala sesuatu yang disukai oleh hawa nafsu. Karena itulah jalan menuju surga banyak unak dan duri bahkan ranjau yang mengundang maut. Sementara jalan menuju neraka sangat bagus dihiasi dengan bunga-bunga dunia.

Meskipun dosa manusia dapat tersembunyi di mata manusia, namun dia harus sadar di mata Tuhan semuanya tercatat dengan rapi serta akan mendapat balasan yang setimpal. Karena itu manusia harus memperhatikan ketaatannya. Untuk menghadapi dosanya dia harus taat dan patuh hanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan terhadap Allah dan Rasul-Nya adalah mutlak. Sedangkan ketaatan terhadap ulil amri hanya berlaku jika ulil amri itu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena itu umat manusia harus memakai petunjuk Alquran dan Assunnah yang telah memberikan jalan yang lurus serta berpegang kepada Syariah Islam sehingga sampai kepada tujuan yaitu surga. Di luar itu adalah ketaatan kepada thagut yang melahirkan sistem dajjal untuk menyesatkan umat manusia. Jika ini yang dipilih maka dosa tidak akan pernah berkurang dan malah tidak akan mendapat pengampunan dari Allah Yang Maha Pengampun.

Bersyukurlah kapada Allah yang nikmat-Nya tercurah sepanjang waktu. Tetapi di seberang itu kita harus paham bahwa hanya kita yang dapat membuat amal saleh untuk diri kita bukan orang lain. Kita harus mampu membedakan peranan panca indra kita dengan hati kita. Kita diciptakan Allah dengan satu hati, bukan dua hati. Karena itu hati kita jangan lalai mengingat dan bertasbih kepada Allah. Karena hati yang lalai bagaikan pohon yang mati. Hati sebagai benteng jangan sampai direbut oleh syetan dengan menghasut kita melakukan perbuatan syirik dan munafik. Jagalah benteng itu dengan ilmu mengenal Allah, karena ilmu mengenal Allah itulah ilmu yang paling tinggi. Akuilah segala dosa baru kemudian berusaha mendapatkan hidayah dengan mengikuti tuntunan Pribadi Agung contoh tauladan umat manusia Nabi Muhammad Saw.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *